JAKARTA – Pemerintah kembali mengingatkan masyarakat bahwa campak bukan sekadar penyakit ruam biasa yang bisa sembuh dengan sendirinya, melainkan infeksi serius yang berpotensi menyebabkan komplikasi berat hingga kematian pada anak. Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyoroti masih adanya kesalahpahaman di tengah masyarakat yang menganggap campak sebagai penyakit ringan, padahal penyakit ini sangat menular dan dapat dicegah melalui imunisasi.
Campak disebabkan oleh virus dari kelompok morbillivirus yang menyerang saluran pernapasan. Penularannya terjadi melalui percikan droplet saat penderita batuk, bersin, atau berbicara. Virus ini dapat bertahan di udara atau pada permukaan benda selama beberapa waktu, sehingga risiko penyebarannya sangat tinggi, terutama di lingkungan padat seperti sekolah dan permukiman. Dalam kondisi tanpa kekebalan, satu orang yang terinfeksi dapat menularkan virus kepada banyak orang di sekitarnya. Tingkat penularan yang tinggi inilah yang membuat campak sering menimbulkan kejadian luar biasa (KLB) ketika cakupan imunisasi menurun.
Gejala awal campak biasanya ditandai dengan demam tinggi, batuk, pilek, mata merah, dan rasa lemas. Beberapa hari kemudian muncul ruam kemerahan yang menyebar dari wajah ke seluruh tubuh. Pada sebagian anak, gejala dapat membaik dalam waktu satu hingga dua minggu. Namun pada kelompok rentan, terutama balita, anak dengan gizi kurang, atau mereka yang memiliki daya tahan tubuh lemah, campak dapat berkembang menjadi komplikasi serius.
Komplikasi yang paling sering terjadi adalah radang paru-paru (pneumonia) yang dapat menyebabkan sesak napas dan gagal napas. Selain itu, infeksi juga bisa menyebar ke otak dan menimbulkan radang otak (ensefalitis) yang memicu kejang, gangguan kesadaran, hingga kerusakan saraf permanen. Campak juga dapat menyebabkan diare berat yang berujung pada dehidrasi parah. Dalam kasus tertentu, infeksi campak bahkan dapat memicu gangguan neurologis progresif beberapa tahun setelah sembuh, yang dikenal sebagai subacute sclerosing panencephalitis (SSPE). Kondisi-kondisi tersebut berpotensi menyebabkan kematian apabila tidak ditangani secara cepat dan tepat.
Data dari berbagai lembaga kesehatan global, termasuk World Health Organization (WHO), menunjukkan bahwa campak masih menjadi salah satu penyebab utama kematian anak akibat penyakit yang sebenarnya dapat dicegah dengan vaksin. WHO menekankan bahwa cakupan imunisasi minimal 95 persen diperlukan untuk menciptakan kekebalan kelompok (herd immunity), sehingga penyebaran virus dapat ditekan secara signifikan. Ketika angka imunisasi turun di bawah ambang tersebut, risiko terjadinya wabah meningkat.
Di Indonesia, program imunisasi campak telah lama menjadi bagian dari imunisasi rutin nasional. Pemerintah juga menyediakan vaksin kombinasi MR (Measles-Rubella) yang melindungi anak dari dua penyakit sekaligus. Vaksin MR diberikan sesuai jadwal yang telah ditetapkan dalam program imunisasi dasar lengkap. Upaya ini sejalan dengan rekomendasi Kementerian Kesehatan Republik Indonesia untuk memastikan setiap anak memperoleh perlindungan optimal sejak usia dini.
Namun demikian, tantangan di lapangan masih cukup besar. Penurunan cakupan imunisasi sempat terjadi dalam beberapa tahun terakhir, salah satunya akibat terganggunya layanan kesehatan saat pandemi. Selain itu, beredarnya informasi yang tidak benar mengenai vaksin di media sosial turut memengaruhi kepercayaan sebagian orang tua. Padahal, berbagai penelitian ilmiah telah membuktikan bahwa vaksin campak aman dan efektif dalam mencegah infeksi berat.
Vaksin bekerja dengan merangsang sistem kekebalan tubuh untuk mengenali dan melawan virus tanpa menyebabkan penyakit berat. Anak yang telah menerima dua dosis vaksin campak memiliki tingkat perlindungan yang sangat tinggi. Kalaupun masih terinfeksi, gejala yang muncul umumnya lebih ringan dibandingkan pada anak yang sama sekali belum divaksin.
Selain imunisasi, pencegahan campak juga didukung oleh pemenuhan gizi seimbang dan pemberian vitamin A sesuai anjuran tenaga kesehatan. Vitamin A terbukti membantu mengurangi risiko komplikasi dan menurunkan angka kematian pada anak yang terinfeksi campak. Oleh karena itu, pendekatan pencegahan harus dilakukan secara menyeluruh, tidak hanya berfokus pada vaksinasi tetapi juga pada peningkatan kualitas kesehatan anak secara umum.
Peran orang tua menjadi kunci dalam melindungi anak dari ancaman campak. Memastikan jadwal imunisasi terpenuhi, berkonsultasi dengan tenaga kesehatan bila ragu, serta menyaring informasi kesehatan secara kritis merupakan langkah penting yang dapat dilakukan. Tenaga kesehatan di puskesmas dan fasilitas layanan primer juga terus melakukan edukasi kepada masyarakat agar pemahaman tentang bahaya campak semakin meningkat.
Dengan tingkat penularan yang tinggi dan risiko komplikasi yang serius, campak tidak boleh dianggap remeh. Imunisasi terbukti menjadi langkah paling efektif dan efisien untuk mencegah penyebaran serta menekan angka kematian anak. Melalui kolaborasi antara pemerintah, tenaga kesehatan, dan masyarakat, upaya pengendalian campak diharapkan dapat berjalan optimal sehingga setiap anak Indonesia mendapatkan haknya untuk tumbuh sehat dan terlindungi dari penyakit yang sebenarnya bisa dicegah ini.