Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa terang-terangan mengkritik tren analisis ekonomi di platform TikTok dan YouTube yang dinilai terlalu provokatif. Menurutnya, banyak analis media sosial yang gemar menebar ketakutan dengan memprediksi kehancuran ekonomi Indonesia tanpa melihat data secara menyeluruh.
Dalam pemaparannya di Sidang Kabinet Paripurna, Purbaya menegaskan bahwa narasi “ekonomi hancur” akibat lonjakan harga minyak dunia adalah pernyataan yang tidak berdasar.
“Jadi kita nggak usah takut, Pak. Analis-analis di TikTok dan YouTube yang bilang kita hancur itu sama sekali nggak pernah melihat data,” ujar Purbaya dengan tegas di hadapan Presiden Prabowo.
Belajar dari Sejarah: RI Tetap Tangguh
Bukan sekadar bicara, Purbaya menyodorkan bukti sejarah. Ia mencontohkan periode 2007-2008 saat harga minyak mentah Brent meroket tajam hingga menembus angka US$ 220 per barel. Meskipun dunia berguncang, Indonesia tetap mampu tumbuh di angka 4,6% berkat kebijakan fiskal dan moneter yang cermat.
Pengalaman serupa kembali terulang pada tahun 2011 dan masa pasca-pandemi COVID-19. Meski harga minyak dunia terus berfluktuasi di atas US$ 100 per barel, indikator ekonomi domestik tetap menunjukkan tren perbaikan yang stabil.
Optimisme di Tengah Ketidakpastian
Menkeu Purbaya meyakinkan Presiden bahwa selama kebijakan fiskal dan moneter tetap sinkron dan tepat sasaran, Indonesia memiliki “perisai” yang cukup kuat untuk menahan dampak gejolak global.
“Artinya, kalau kita punya kebijakan yang pas, walaupun ekonomi global dan harga minyak gonjang-ganjing, kita punya cara dan pengalaman untuk mengendalikan dampaknya. Jadi, kita nggak perlu takut, Pak,” pungkasnya optimistis.