JAKARTA – Menteri Perekonomian Airlangga Hartarto mengungkapkan bahwa Presiden Prabowo Subianto sejak awal terlibat langsung dalam negosiasi terkait tarif ekspor Indonesia ke Amerika Serikat, yang sempat mencapai angka 32%. Airlangga, yang juga memimpin tim negosiasi Indonesia, mengungkapkan bahwa Presiden Prabowo menginstruksikan agar Indonesia segera mengirimkan surat tanggapan setelah Presiden AS, Donald Trump, mengumumkan kebijakan “liberation day” atau deklarasi independensi ekonomi pada 2 April 2025.
Dalam wawancara “Real Talk with Uni Lubis: Kisah di Balik Telepon Presiden Prabowo-Trump” yang diunggah di YouTube IDN Times, Airlangga menjelaskan, “Pak Presiden langsung merespons dalam bentuk pernyataan resmi. Pak Presiden meminta Indonesia untuk berkirim surat, dan surat dari Indonesia menjadi yang pertama sampai ke Gedung Putih setelah pengumuman Trump.”
Selain itu, Airlangga juga mengungkapkan bahwa tim negosiasi Indonesia, yang melibatkan berbagai kementerian dan lembaga, tengah membahas berbagai aspek perdagangan dengan negara-negara mitra, seperti Organization for Economic Co-operation and Development (OECD) dan Indonesia-EU Comprehensive Economic Partnership Agreement (IEU CEPA).
Presiden Prabowo, menurut Airlangga, meminta agar tim menyusun “menu” khusus yang akan ditawarkan kepada Trump. Menu ini mencakup berbagai komponen perdagangan, yang disesuaikan dengan prioritas kedua negara, serta difokuskan pada defisit perdagangan Amerika yang diperkirakan mencapai sekitar 19 miliar dolar AS.
Airlangga menambahkan bahwa tarif ekspor Indonesia ke AS yang sebelumnya mencapai 32% kini bisa turun menjadi 19%, karena Indonesia memenuhi semua persyaratan yang ditetapkan oleh AS. Ia juga menyebutkan bahwa komunikasi antara Presiden Prabowo dan Presiden Trump menjadi kunci dalam mencapai kesepakatan ini.
“Komunikasi lewat telepon antara Pak Prabowo dan Pak Trump sangat menentukan, karena finalisasi tarif 19% itu terjadi setelah percakapan tersebut,” ujar Airlangga.
Dengan proses negosiasi yang penuh rincian dan diplomasi ini, Airlangga menegaskan bahwa Indonesia berhasil memenuhi seluruh persyaratan, mulai dari surat resmi yang dikirim sebelum batas waktu 9 April hingga kunjungan tim ke Gedung Putih, yang menjadikan Indonesia sebagai negara pertama yang memberikan respons positif terhadap kebijakan baru AS.
Dengan tercapainya kesepakatan tarif 19%, Airlangga menilai langkah ini sebagai hasil dari kerjasama erat antara Presiden Prabowo dan pemerintah Indonesia dalam menjaga hubungan perdagangan dengan AS, serta memastikan kepentingan nasional tetap terlindungi.