JAKARTA – Era baru Formula 1 (F1) menghadirkan tantangan besar dalam pengelolaan energi, terutama pada fase start. Uji coba di Barcelona menujukkan para pembalap harus menjaga putaran mesin lebih tinggi dan lebih lama agar turbo mencapai kecepatan kerja optimal.
Penghapusan MGU-H membuat tim kini hanya mengandalkan MGU-K untuk aspek kelistrikan. Namun, sesuai regulasi, MGU-K tidak boleh digunakan saat start, sehingga turbo harus bekerja tanpa dukungan eksternal. Kondisi ini memunculkan kembali isu turbo lag yang sebelumnya dapat diminimalisasi.
Sistem Baru pada F1 2026
Lando Norris menegaskan kompleksitas sistem baru ini. “Ini jauh lebih rumit karena sebelumnya Anda juga memiliki turbo yang, di masa lalu, diseimbangkan dengan sempurna menggunakan baterai: sehingga Anda mendapatkan tenaga yang sangat bersih, dengan memanfaatkan baterai dan mesin endotermik secara bersamaan,” ujarnya setelah tes di Barcelona, dilansir dari Motorsport, Senin (9/2/2026).
Norris menambahkan, “Akan ada beberapa komplikasi, tetapi saat ini hal itu lebih sulit terutama karena Anda harus membawa turbo ke titik yang sempurna dan, karena tidak memiliki jumlah baterai yang ideal untuk mengisi momen-momen kritis, semuanya menjadi jauh lebih menantang. Jadi ya, Anda akan melihat banyak uji coba start di Bahrain.”
Dengan MGU-K yang kini mampu menghasilkan tenaga hingga 350 kW—hampir tiga kali lipat dari sebelumnya—tantangan pengelolaan energi semakin besar. Kapasitas baterai tidak banyak berubah, sehingga risiko kehabisan daya di lintasan lurus atau keluar tikungan bisa berakibat kehilangan waktu signifikan.
Strategi pemanfaatan energi di trek cepat dengan sedikit peluang pengisian ulang akan menjadi kunci. Tim dituntut merancang perencanaan cermat agar performa tetap konsisten sepanjang balapan.