JAKARTA – Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyatakan industri tekstil dan produk tekstil (TPT) Indonesia tetap tumbuh 4,3 persen pada 2024, meskipun di tengah kabar bangkrutnya PT Sri Rejeki Isman Tbk (Sritex), salah satu pabrik tekstil terbesar di Tanah Air.
“TPT yang walaupun karena terjadinya berita terhadap suatu perusahaan mengalami kebangkrutan tapi TPT kita tumbuh 4,3 persen di tahun 2024 dibandingkan tahun sebelumnya yang negatif 2 persen,” kata Sri Mulyani dalam Konferensi Pers APBN KiTa di Jakarta, Kamis (13/3/2025).
Ia juga mengungkapkan bahwa industri alas kaki mencatat pertumbuhan cukup tinggi, yakni 6,8 persen, lebih baik dibandingkan tahun 2023 yang mengalami kontraksi -0,3 persen.
“Akhir 2024 industri manufaktur kita baik yang labor intensif seperti dan alas kaki, namun terutama untuk industri kimia, elektronik, logam dasar itu mengalami kenaikan including makanan dan minuman,” ujarnya.
Menurutnya, capaian tersebut turut mendorong Purchasing Manager Index (PMI) Manufaktur Indonesia mencapai angka 53,6, tertinggi setelah India.
“Kita lihat kontributor semuanya positif kecuali yang ekspor agak di bawah 50 outputnya positif, total permintaan positif 54,8, tenaga kerja 53, stok barang jadi 51 dan stok input produksi 54,1. Kalau punya input berarti dia mau memproduksi,” jelasnya.
Berdasarkan data, ekspor industri TPT pada Januari 2025 tercatat tumbuh 3,8 persen, sementara industri alas kaki mencatat kenaikan signifikan hingga 17 persen.
“Untuk tekstil dan alas kaki Januari 2025 itu ekspornya tumbuhnya untuk alas kaki bahkan double digit 17 persen TPT memang rendah tapi itu positif di 3,8 persen mau mendekati 4 persen,” ungkapnya.
Sri Mulyani menegaskan bahwa pertumbuhan tersebut menunjukkan industri manufaktur Indonesia tetap kuat di tengah berbagai tantangan.
“Jadi ini menggambarkan bahwa produksi dan aktivitas manufaktur di Indonesia itu tetap mampu bertahan residen bahkan mereka itu cukup kuat nggak cuman bertahan,” pungkasnya.