BIRMINGHAM – Turnamen BWF Super 1000, All England 2026 menjadi panggung pembuktian bagi pasangan gado-gado Gloria Emanuelle Widjaja bersama patner barunya dari Singapura Hee Yong Kai Terry.
Hee/Gloria tersingkir lebih awal di babak 32 besar, namun tetap menunjukkan performa menjanjikan dan memberi sinyal ancaman serius di sektor ganda campuran dunia.
Dalam laga babak pertama All England Open 2026, Hee/Gloria harus mengakui keunggulan unggulan pertama asal China, Feng Yan Zhe / Huang Dong Ping, melalui pertarungan sengit tiga gim 21-18, 18-21, 19-21 di Utilita Arena Birmingham, Selasa waktu setempat.
Meski langkah mereka terhenti, performa kompetitif yang diperlihatkan sepanjang pertandingan justru mempertegas bahwa duet lintas negara Singapura-Indonesia ini bukan sekadar pasangan eksperimen.
Melainkan kombinasi yang berpotensi menjadi kuda hitam di turnamen-turnamen besar mendatang.
Duel Ketat Hingga Poin Kritis
Hee/Gloria tampil berani sejak gim pertama dengan permainan agresif dan variasi serangan yang efektif sehingga mampu merebut gim pembuka 21-18.
Pada gim ketiga, mereka bahkan sempat unggul 19-17 dan berada di ambang kemenangan atas pasangan nomor satu unggulan tersebut.
Namun momentum berubah drastis ketika pasangan China mampu merebut empat poin beruntun untuk membalikkan keadaan sekaligus mengunci kemenangan dramatis.
Gloria mengakui momen krusial menjadi titik pembeda dalam laga tersebut.
“Pasti di poin krusial itu kan kami berpikir ada peluang (untuk menang), kami pasti mau ambil tapi kami tidak bisa kontrol kemauannya. Jadi mainnya kurang tenang, kurang pas sentuhannya,” ujar Gloria dalam keterangan resmi PP PBSI setelah laga.
Adaptasi Empat Turnamen, Fondasi Masa Depan
Bagi Gloria, kebersamaan bersama Terry dalam empat turnamen terakhir menjadi fase adaptasi yang sarat pembelajaran sekaligus proses pembentukan chemistry.
“Empat turnamen bersama Terry menjadi pengalaman baru untuk saya dan mungkin juga untuk dia. Dengan typical mindset yang berbeda antara saya dan Terry, juga dengan pelatih saya dan pelatih dia, itu jadi pelajaran baru buat saya dan bagian dari sejarah cerita kehidupan. Senang sih,” katanya.
Perbedaan latar belakang kepelatihan serta karakter bermain justru memperkaya dinamika pasangan ini, sekaligus membentuk fondasi komunikasi dan pemahaman taktis yang semakin matang.
Terry pun menilai ketenangan menjadi faktor utama yang membedakan hasil akhir pertandingan.
“Kami sudah mencoba 100 persen, fight setiap poin. Tapi di akhir-akhir memang saya kurang tenang,” ujar Terry.
Sejak hasil undian mempertemukan mereka dengan unggulan teratas, Hee/Gloria sudah memahami tantangan berat yang menanti.
“Kami tahu ini tidak akan mudah, tapi kami pikir masih ada peluang. Jadi kami tidak mau menyerah sebelum tanding dan mencoba menikmati setiap poin,” katanya.
Dukungan dan Sinyal Kebangkitan
Menariknya, dalam laga tersebut Hee/Gloria mendapat dukungan langsung dari pebulu tangkis Malaysia, Goh Soon Huat, yang hadir memberi masukan teknis karena pelatih mereka berhalangan mendampingi di sisi lapangan.
Situasi tersebut menunjukkan fleksibilitas dan profesionalisme pasangan ini dalam menghadapi tekanan turnamen level Super 1000.
Walau tersingkir lebih awal di All England 2026, performa kompetitif, mental bertarung hingga poin akhir, serta progres chemistry yang terus berkembang menjadi modal berharga bagi Hee/Gloria untuk menatap turnamen berikutnya dengan optimisme tinggi.
Dengan permainan yang kian solid dan pengalaman menghadapi unggulan teratas dunia, duet ini berpotensi menjadi ancaman nyata di sektor ganda campuran internasional sepanjang musim 2026.***