JAKARTA – Menteri Komunikasi dan Digitalisasi (Menkomdigi) Meutya Hafid menghadiri acara kebangsaan bertajuk Indonesia Kita Spesial: Merajut Kebangsaan yang digelar Garuda TV bertepatan dengan peringatan Hari Kesaktian Pancasila, 1 Oktober 2025, di Cattleya Hall, Wisma Serbaguna, Gelora Bung Karno, Jakarta Pusat.
Dalam sambutannya, Meutya menegaskan pentingnya menjaga persatuan dan kesatuan bangsa sebagai amanah sejarah yang tidak boleh ditinggalkan dalam setiap momentum kebangsaan.
“Kita semua memperingati hari yang penting yakni kesaktian Pancasila pada 1 Oktober 2025,” tegasnya.
Ia menilai, Hari Kesaktian Pancasila bukan sekadar peringatan tahunan, tetapi momentum untuk mengingatkan generasi bangsa akan sejarah perjuangan yang harus terus dilanjutkan sepanjang masa.
“Memastikan Pancasila harus terus digaungkan dan pesan persatuan dan kesatuan bukan sekedar slogan tapi sebuah perjuangan panjang dan harus diteruskan hingga kapan pun,” lanjutnya.
Meutya mengapresiasi langkah Garuda TV yang menghadirkan tema kebangsaan di hari bersejarah tersebut sebagai bentuk komitmen media menjaga semangat persatuan di tengah masyarakat yang semakin beragam.
“Kami apresiasi selaku Menkomdigi, bahwa Garuda TV di hari khusus ini mengangkat topik yang juga spesial, untuk mengingatkan kita semua pentingnya persatuan dan kesatuan,” tambahnya.
Ia menekankan bahwa media massa memiliki peran strategis dalam memperkuat nilai kebangsaan sekaligus menghadapi tantangan disrupsi digital yang semakin kompleks.
Menurutnya, di era digital, teknologi membawa banyak manfaat bagi masyarakat, mulai dari aplikasi transportasi online hingga berbagai platform ekonomi digital yang memberi lapangan pekerjaan bagi anak bangsa.
Namun, Meutya juga mengingatkan adanya ancaman serius dari konten negatif seperti judi online, pornografi, disinformasi, hingga hoaks yang berpotensi memecah belah bangsa.
Ia mengungkapkan, sejak 20 Oktober (2024) hingga kini, Kementerian Komunikasi dan Digitalisasi telah melakukan moderasi terhadap lebih dari 2.916.867 konten bermuatan negatif di ruang digital.
Langkah ini, jelas Meutya, merupakan komitmen pemerintah untuk menjaga ekosistem digital tetap aman dan sehat, sehingga nilai persatuan dan kesatuan bisa terus digaungkan di ruang media sosial.
Saat ini, lebih dari 220 juta masyarakat Indonesia atau sekitar 80 persen populasi sudah terkoneksi dengan internet, menjadikan Indonesia salah satu negara dengan pengguna internet terbesar di dunia.
“Karena itu, tidak mungkin pemerintah berjalan sendiri,” tegas Meutya, sembari menekankan perlunya kolaborasi media, masyarakat, dan generasi muda dalam melawan hoaks serta konten negatif lainnya.
Ia pun menyoroti pentingnya peran televisi sebagai garda depan penyebaran informasi yang sehat, edukatif, dan mempersatukan bangsa di tengah derasnya arus informasi digital.
Meutya optimistis media televisi, khususnya Garuda TV, mampu terus menjaga marwah penyiaran dengan menghadirkan program yang sesuai undang-undang, mencerdaskan publik, dan memperkuat ikatan kebangsaan.***
