JAKARTA – Milisi yang didukung Iran di kawasan Timur Tengah meningkatkan serangan terhadap Israel, Amerika Serikat, dan sekutu mereka, sebagai balasa atas operasi gabungan AS-Israel terhadap Teheran. Konflik ini kini melibatkan aktor bersenjata baru yang berpotensi memicu kekacauan lebih luas.
Dilansir dair The Guradiran, Jumat (6/3/2026), Israel dan AS menargetkan jaringan kelompok militan Iran, dengan Irak muncul sebagai medan utama konfrontasi. Sejak perang dimulai pada Sabtu, kelompok milisi di Irak melancarkan puluhan serangan ke pangkalan AS di Yordania dan Irak, serta ke Israel. Mereka juga menyerang infrastruktur oposisi Kurdi-Iran di wilayah utara Irak.
Menurut analis dan mantan pejabat intelijen regional, serangan udara dan operasi pasukan khusus dilakukan untuk melemahkan kemampuan milisi pro-Iran di Irak. Meski demikian, pemerintah Irak berusaha menghindari keterlibatan langsung dalam konflik.
Pada Selasa, Washington mengisyaratkan kemungkinan mobilisasi kelompok oposisi Kurdi Iran untuk invasi ke barat laut Iran. Beberapa faksi milisi mengklaim serangan ke pangkalan AS di bandara Erbil, sementara drone dan rudal diluncurkan dari gurun barat Iran ke Yordania, serta rudal ditembakkan ke Kuwait.
Milisi pro-Iran juga mengeluarkan pernyataan bersama yang memperingatkan negara-negara Eropa agar tidak bergabung dalam perang, dengan ancaman terhadap pasukan dan pangkalan mereka di kawasan. Iraqi News Agency melaporkan upaya peluncuran rudal dari Basra berhasil digagalkan oleh pasukan keamanan.
Seorang juru bicara militer Israel mengonfirmasi adanya peluncuran drone dari Irak, meski jumlahnya tidak signifikan. Michael Knights, pakar Irak dari Horizon Engage, menyebut kelompok-kelompok tersebut tengah mencari cara untuk tetap relevan pasca pembunuhan Ayatollah Ali Khamenei.
Serangan balasan berupa drone bunuh diri dilaporkan menewaskan 15 pejuang Kataib Hezbollah di selatan Baghdad dan Basra. Knights menilai pola serangan ini menunjukkan adanya operasi rahasia di lapangan. Kataib Hezbollah kemudian mengumumkan salah satu komandannya tewas dalam serangan di Irak selatan.
Selain itu, ledakan misterius melumpuhkan sistem radar pemerintah Irak. Mantan pejabat intelijen Israel menyebut dugaan keterlibatan pasukan khusus Israel atau AS dalam insiden tersebut sebagai hal yang “dapat dipercaya.”
Iran selama puluhan tahun membangun jaringan militan lintas kawasan untuk memperkuat pengaruh regional. Namun, serangan bertubi-tubi Israel sejak serangan Hamas pada 7 Oktober 2023 telah melemahkan “poros perlawanan.”
Renad Mansour dari Chatham House menilai konflik ini terkait dengan kelangsungan hidup kelompok milisi, sementara analis Phillip Smyth menyebut Teheran mungkin menahan Houthi sebagai cadangan. Laporan terbaru juga menyebut serangan kelompok separatis Arab Iran terhadap pangkalan IRGC di Ahwaz, diklaim oleh kelompok baru bernama “Ahwaz Falcons.”