JAKARTA – Puasa khususnya saat Ramadhan, bukan hanya praktik ibadah tetapi juga fenomena biologis yang melibatkan perubahan pola makan, metabolisme, hingga ritme tidur. Sayangnya, masih banyak anggapan yang beredar di masyarakat yang belum tentu benar secara ilmiah. Sebagian mitos muncul dari pengalaman pribadi yang digeneralisasi, sebagian lagi berasal dari informasi yang tidak lengkap. Padahal, pemahaman yang tepat penting agar puasa dapat dijalani secara sehat dan optimal.
- 1. Mitos: Puasa Pasti Membuat Tubuh Lemas Sepanjang Hari
- Fakta: Tubuh Memiliki Mekanisme Adaptasi Energi.
- 2. Mitos: Tidak Sahur Tidak Masalah Selama Masih Kuat
- Fakta: Sahur Berperan Penting Dalam Menjaga Kestabilan Metabolisme.
- 3. Mitos: Puasa Selalu Menyebabkan Dehidrasi Berat
- Fakta: Dehidrasi Bisa Dicegah Dengan Pola Minum Yang Tepat.
- 4. Mitos: Puasa Pasti Menurunkan Berat Badan
- Fakta: Penurunan Berat Badan Tergantung Pola Makan Saat Berbuka.
- 5. Mitos: Berolahraga Saat Puasa Berbahaya
- Fakta: Olahraga Ringan Tetap Aman Dilakukan.
- 6. Mitos: Puasa Berbahaya bagi Semua Orang dengan Penyakit Tertentu
- Fakta: Kondisi Kesehatan Perlu Evaluasi Individual.
- 7. Mitos: Minum Banyak Saat Sahur Bisa Mencegah Haus Seharian
- Fakta: Tubuh Tidak Menyimpan Cairan Berlebih Secara Instan.
- Pentingnya Literasi Kesehatan Saat Berpuasa
Berikut ini beberapa mitos dan fakta tentang puasa yang sering di salahpahami, berdasarkan penjelasan medis dan temuan ilmiah.
1. Mitos: Puasa Pasti Membuat Tubuh Lemas Sepanjang Hari
Fakta: Tubuh Memiliki Mekanisme Adaptasi Energi.
Saat tidak ada asupan makanan selama beberapa jam, tubuh menggunakan cadangan glikogen (simpanan glukosa) di hati sebagai sumber energi. Setelah itu, tubuh mulai memanfaatkan lemak sebagai bahan bakar. Proses ini adalah mekanisme alami yang juga terjadi saat seseorang tidur lebih lama atau menjalani pola intermittent fasting.
Memang, pada hari-hari pertama puasa seseorang bisa merasa lemas karena tubuh masih beradaptasi. Namun penelitian tentang puasa intermiten menunjukkan bahwa setelah fase adaptasi, banyak orang justru melaporkan peningkatan fokus dan stabilitas energi, asalkan kebutuhan cairan dan nutrisi saat sahur dan berbuka terpenuhi dengan baik.
2. Mitos: Tidak Sahur Tidak Masalah Selama Masih Kuat
Fakta: Sahur Berperan Penting Dalam Menjaga Kestabilan Metabolisme.
Secara medis, sahur membantu menjaga kadar gula darah tetap stabil lebih lama. Tanpa sahur, jarak waktu tanpa asupan menjadi lebih panjang sehingga risiko hipoglikemia (gula darah rendah) meningkat, terutama pada individu dengan aktivitas tinggi atau kondisi kesehatan tertentu.
Ahli gizi umumnya menyarankan konsumsi karbohidrat kompleks (seperti nasi merah, oat, atau roti gandum), protein, dan serat saat sahur agar energi dilepaskan secara bertahap. Melewatkan sahur mungkin terasa ringan sesekali, tetapi jika menjadi kebiasaan, bisa berdampak pada konsentrasi dan stamina.
3. Mitos: Puasa Selalu Menyebabkan Dehidrasi Berat
Fakta: Dehidrasi Bisa Dicegah Dengan Pola Minum Yang Tepat.
Tubuh memang tidak mendapat cairan selama berpuasa, tetapi dehidrasi berat umumnya terjadi jika asupan cairan saat malam hari tidak mencukupi. Organisasi kesehatan merekomendasikan pembagian minum secara bertahap antara waktu berbuka hingga sahur, bukan langsung dalam jumlah besar sekaligus.
Urine berwarna kuning pekat, rasa sangat haus, dan pesing adalah tanda kurang cairan. Jika pola minum teratur dan aktivitas fisik berat dihindari pada siang hari, resiko dehidrasi dapat ditekan secara signifikan.
4. Mitos: Puasa Pasti Menurunkan Berat Badan
Fakta: Penurunan Berat Badan Tergantung Pola Makan Saat Berbuka.
Secara teori, defisit kalori dapat menyebabkan penurunan berat badan. Namun dalam praktiknya, banyak orang justru mengalami kenaikan berat badan selama Ramadhan karena konsumsi makanan tinggi gula dan lemak saat berbuka.
Penelitian mengenai pola puasa menunjukkan bahwa manfaat metabolik akan optimal bila asupan tetap seimbang dan tidak berlebihan. Artinya, puasa bukan jaminan otomatis untuk menurunkan berat badan, melainkan tergantung pola konsumsi secara keseluruhan.
5. Mitos: Berolahraga Saat Puasa Berbahaya
Fakta: Olahraga Ringan Tetap Aman Dilakukan.
Aktivitas fisik intensitas ringan hingga sedang, seperti berjalan santai atau yoga, umumnya aman saat puasa. Banyak ahli menyarankan waktu terbaik adalah menjelang berbuka atau setelah berbuka ringan. Olahraga membantu menjaga kebugaran jantung, metabolisme, dan suasana hati.
Yang perlu di hindari adalah latihan berat berkepanjangan di tengah terik matahari tanpa persiapan yang cukup. penyesuaian intensitas dan durasi menjadi kunci.
6. Mitos: Puasa Berbahaya bagi Semua Orang dengan Penyakit Tertentu
Fakta: Kondisi Kesehatan Perlu Evaluasi Individual.
Tidak semua orang dengan kondisi medis dilarang berpuasa. Namun, individu dengan diabetes, gangguan ginjal, penyakit jantung, atau kondisi kronis lainnya perlu berkonsultasi dengan tenaga medis sebelum menjalani puasa. Banyak penelitian menunjukkan bahwa dengan pengawasan dan penyesuaian obat yang tepat, sebagian pasien tetap dapat berpuasa secara aman.
Keputusan berpuasa sebaiknya berbasis kondisi kesehatan personal, bukan asumsi umum.
7. Mitos: Minum Banyak Saat Sahur Bisa Mencegah Haus Seharian
Fakta: Tubuh Tidak Menyimpan Cairan Berlebih Secara Instan.
Minum dalam jumlah sangat banyak sekaligus saat sahur tidak otomatis membuat tubuh “menyimpan” cairan lebih lama. Ginjal akan tetap mengatur keseimbangan cairan dan membuang kelebihan melalui urine. Yang lebih efektif adalah menjaga hidrasi sejak berbuka hingga sahur secara bertahap.
Pentingnya Literasi Kesehatan Saat Berpuasa
Sebagian besar mitos tentang puasa muncul karena kurangnya pemahaman tentang cara kerja tubuh. Secara fisiologis, puasa adalah kondisi yang bisa ditoleransi tubuh manusia dengan baik, bahkan dalam beberapa penelitian dikaitkan dengan perbaikan sensitivitas insulin dan pengaturan metabolisme, selama dijalani dengan pola makan yang seimbang.
Namun demikian, puasa bukan sekadar persoalan fisik. Aspek mental dan spiritual juga berperan besar. Manajemen stres, istirahat cukup, serta pola makan bijak menjadi kunci agar ibadah berjalan optimal.
Memilah antara mitos dan fakta membantu kita menjalani puasa dengan lebih tenang dan terinfomasi. Daripada mempercayai kabar yang belum tentu benar lebih baik merujuk pada sumber ilmiah dan berkonsultasi dengan tenaga kesehatan jika memiliki kondisi khusus. Dengan begitu, puasa tidak hanya bernilai ibadah, tetapi juga mendukung kesehatan tubuh secara menyeluruh.