Ruang Rapat Komisi III DPR RI seketika berubah menjadi panggung kepiluan pada Kamis (26/2/2026). Usai rapat dengar pendapat umum ditutup, dua orang ibu, Makkiyati dan Nirwana, tak lagi mampu membendung sesak di dada.
Mereka bersimpuh, memeluk kaki, dan mencium tangan Ketua Komisi III DPR, Habiburokhman, demi satu tujuan: nyawa dan keadilan bagi anak mereka.
“Bapak… Bapak… mohon tolong anak saya, Bapak,” rintih keduanya di sela isak tangis yang pecah di hadapan para wakil rakyat.
Dua Nyawa dalam Pusaran Kasus Berbeda
Didampingi pengacara kondang Hotman Paris Hutapea, kedua ibu ini membawa beban kasus yang sangat berat:
-
Makkiyati: Berjuang untuk putranya, Radiet Ardiansyah, yang didakwa membunuh seorang mahasiswi di Pantai Nipah, Lombok. Padahal, menurut keluarga, tidak ada saksi mata dan Radiet justru ditemukan pingsan di lokasi kejadian.
-
Nirwana: Berharap mukjizat bagi putranya, Fandi Ramadhan, ABK kapal Sea Dragon yang kini divonis mati atas penyelundupan 2 ton sabu. Nirwana menegaskan anaknya hanyalah pengangguran yang baru bekerja tiga hari dan tertipu oleh janji kerja di kapal kargo.
Hotman Paris: “Tidak Masuk Nalar Hukum”
Hotman Paris yang mendampingi para ibu ini melontarkan kritik pedas terhadap proses hukum yang berjalan. Dalam kasus kematian mahasiswi di Lombok, Hotman menyebut dakwaan jaksa hanya berdasar pada asumsi psikolog tanpa saksi fakta.
Sementara dalam kasus sabu 2 ton, Hotman menyoroti tuntutan hukuman mati bagi Fandi yang dianggap tidak tahu-menahu isi muatan kapal.
“Anak ini baru kerja tiga hari. Dia tanya kapten, katanya isinya uang dan emas. Bagaimana bisa orang yang baru masuk kerja langsung dituntut mati tanpa bukti dia tahu itu narkoba?” tegas Hotman.
Respon Habiburokhman
Melihat kedua ibu tersebut bersujud di kakinya, Habiburokhman tampak sigap menahan tubuh mereka. Ia berulang kali meminta Makkiyati dan Nirwana untuk tenang dan bangkit berdiri.
“Bapak mohon tolong dibantu saya, Bapak. Saya tidak bersalah, Bapak. Tolong, Bapak,” ujar Makiyati.
“Iya, iya. Sabar, Bu. Jangan begini, Ibu,” ujar Habiburokhman menenangkan. Ia berjanji akan mempelajari aduan tersebut dan mengingatkan bahwa proses hukum masih panjang. “Kita berdoa sama Allah, prosesnya masih berjalan,” tuturnya.
Potret Ketidakpastian Keadilan
Kasus Pantai Nipah dan skandal Sea Dragon kini menjadi sorotan nasional. Di satu sisi, ada duka keluarga korban yang kehilangan nyawa, namun di sisi lain, muncul kekhawatiran akan adanya “peradilan sesat” yang menjerat orang-orang yang tak bersalah.
Kehadiran dua ibu ini di gedung parlemen bukan sekadar aksi teatrikal, melainkan simbol keputusasaan rakyat kecil yang berharap suara mereka tidak tenggelam dalam riuh rendah birokrasi hukum.