Pemerintah Indonesia bergerak cepat merespons keputusan Moody’s Investors Service yang menurunkan outlook peringkat kredit Indonesia dari stabil menjadi negatif. Meski peringkat kredit tetap dipertahankan di level Baa2—satu tingkat di atas batas investment grade—perubahan outlook tersebut menjadi sinyal penting bagi pasar.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengungkapkan bahwa Presiden Prabowo Subianto telah memerintahkan jajaran menteri untuk menggelar forum Indonesia Economic Outlook pada Jumat (13/2/2026). Forum ini akan menjadi wadah penjelasan komprehensif kepada publik dan pelaku pasar.
“Bapak Presiden meminta agar kita membuat penjelasan yang lebih lengkap dalam bentuk serasehan ekonomi, yaitu Indonesia Economic Outlook,” ujar Airlangga usai rapat terbatas di Istana Negara, Rabu (11/2/2026).
Alasan Moody’s dan Dampak ke Pasar
Moody’s mengumumkan penurunan outlook pada 5 Februari 2026. Lembaga pemeringkat global tersebut menyoroti penurunan prediktabilitas kebijakan serta kekhawatiran terhadap tata kelola pemerintahan sebagai faktor utama.
Reaksi pasar pun tak terhindarkan:
-
Indeks saham utama turun sekitar 2%
-
Imbal hasil obligasi pemerintah tenor 10 tahun naik 11 basis poin ke level 6,44%
-
Rupiah melemah hingga Rp16.866 per dolar AS
-
Investor asing mencatat net sell obligasi sebesar Rp2,77 triliun pada akhir Januari
IHSG bergerak volatil dengan kecenderungan melemah dalam beberapa pekan setelah pengumuman. Di pasar obligasi, analis memperkirakan volatilitas harga dan imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) masih akan meningkat dalam jangka pendek.
Pemerintah dan BI: Fundamental Tetap Solid
Meski pasar bereaksi sensitif, otoritas ekonomi menegaskan bahwa fundamental Indonesia tetap kuat.
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menyatakan bahwa penyesuaian outlook tidak mencerminkan pelemahan struktur ekonomi nasional. BI akan terus memperkuat bauran kebijakan untuk menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan.
Di sisi fiskal, Wakil Menteri Keuangan Juda Agung menyampaikan bahwa pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi kuartal I 2026 sebesar 5,6%. Sebelumnya, PDB kuartal IV 2025 tumbuh 5,39%, tertinggi sejak pandemi, dengan pertumbuhan tahunan mencapai 5,11%.
Fokus Penjelasan: Fiskal dan Danantara
Dalam forum Indonesia Economic Outlook mendatang, pemerintah akan memaparkan:
-
Kondisi terkini perekonomian nasional
-
Strategi menjaga stabilitas fiskal
-
Proyeksi penerimaan negara
-
Penjelasan terkait Danantara yang menjadi perhatian Moody’s
“Ini tentu perlu diperhatikan terkait penjelasan yang diperlukan, utamanya mengenai penerimaan negara dan Danantara,” tegas Airlangga.
Langkah ini diharapkan mampu meredam ketidakpastian, memulihkan sentimen pasar, serta menjaga kepercayaan investor global terhadap perekonomian Indonesia.
Di tengah tekanan global dan dinamika domestik, pemerintah menegaskan satu pesan utama: rating boleh berubah outlook, tetapi fondasi ekonomi Indonesia tetap terjaga.
