JAKARTA – Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) RI, Ahmad Muzani, menegaskan bahwa bangsa Indonesia memiliki utang besar kepada Nahdlatul Ulama (NU) atas peran historisnya dalam memperjuangkan dan menjaga kemerdekaan serta keutuhan negara.
Pernyataan tersebut disampaikan Muzani saat menjadi pembicara kunci pada puncak peringatan Hari Lahir (Harlah) ke-100 tahun Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), di Istora Senayan, Jakarta, Sabtu (31/1/2026). Acara ini menjadi momentum refleksi atas kontribusi panjang organisasi Islam terbesar di Indonesia.
Menurut Muzani, perjuangan NU telah dimulai jauh sebelum proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945. Saat Republik Indonesia masih rapuh dan angkatan bersenjata belum kuat, NU secara proaktif membentuk organisasi untuk memperkuat perlawanan terhadap penjajah.
“Kontribusi NU terhadap Republik Indonesia sejak berdiri sampai sekarang begitu besar. Ketika Republik Indonesia masih dalam keadaan lemah, angkatan bersenjata yang masih dalam keadaan kurang kuat, maka NU kemudian melahirkan berbagai macam organisasi,” ujar Muzani.
Ia menyoroti pendirian Gerakan Pemuda Ansor pada 1934 dan Barisan Ansor Serbaguna (Banser) pada 1936 sebagai organisasi paramiliter NU yang lahir sebelum Indonesia merdeka. Langkah ini merupakan upaya strategis NU untuk memperkuat basis perlawanan rakyat terhadap kolonialisme.
Muzani juga mengenang heroisme warga NU pada masa revolusi fisik. Saat Belanda berupaya kembali menguasai wilayah Indonesia pasca-kemerdekaan, termasuk dalam Pertempuran Surabaya bersama pasukan Inggris, para santri, pemuda NU, dan seluruh rakyat bersatu mengusir penjajah.
Puncaknya, NU mengeluarkan fatwa jihad melalui Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari, yang memerintahkan seluruh santri membela tanah air.
“Maka tanpa diminta, fatwa jihad keluar dari Hadratussyaikh. Membela tanah air menjadi kewajiban seluruh santri NU. Seluruh santri bersatu di desa, di kota, laki-laki, perempuan, mengasah senjata, mengangkat bambu runcing untuk mengusir penjajah. Itulah heroisme NU di awal berdirinya Republik Indonesia,” tutur Muzani.
Peran NU tidak berhenti di situ. Muzani menekankan kontribusi organisasi ini dalam menumpas pemberontakan komunisme di Madiun 1948, di mana para kiai dan pondok pesantren menjadi korban, namun santri tetap berjuang menyelamatkan Pancasila sebagai ideologi negara.
Selain perjuangan fisik, Muzani menyoroti kekuatan spiritual NU melalui doa-doa para kiai, seperti istighosah, yasinan, tahlilan, zikir, dan salawatan, yang diyakini turut menjaga persatuan dan ketahanan bangsa di tengah berbagai ujian.
“Barangkali itulah yang menyebabkan kita masih kuat, masih bersatu, dan masih bertahan menghadapi berbagai ujian. Itu sebabnya bangsa ini berutang kepada NU,” imbuhnya.
Pasca-kemerdekaan, Muzani menegaskan tugas NU tidak berakhir. Organisasi ini terus mengisi kemerdekaan dengan menjaga keutuhan NKRI di tengah keberagaman suku, adat, budaya, pulau, dan agama.
“Apa tugas NU setelah Indonesia merdeka? Tugas NU tidak berhenti. Tugas NU adalah mengisi kemerdekaan, menjaga Republik Indonesia, menjaga keutuhan, dan menjaga kebersamaan. Bangsa yang besar seperti Indonesia dengan beragam suku, adat, budaya, pulau, dan agama harus bersatu. NU selalu berdiri di depan untuk menjaga persatuan dan kesatuan bangsa,” pungkas Muzani.
Ia berharap NU tetap konsisten dalam perjuangan ini demi kemajuan dan kejayaan Indonesia ke depan. Peringatan Harlah ke-100 NU ini mengusung semangat mengawal Indonesia merdeka menuju peradaban mulia, dengan kehadiran sejumlah tokoh nasional lainnya.