JAKARTA — Tradisi mudik Lebaran 2026 kembali menjadi magnet emosional bagi para perantau yang ingin melepas rindu dengan keluarga di kampung halaman.
Lonjakan mobilitas yang tinggi tidak menyurutkan kenyamanan perjalanan karena sebagian besar pemudik mengaku tidak mengalami hambatan berarti sepanjang perjalanan.
Kondisi ini memicu apresiasi luas terhadap pemerintah yang dinilai berhasil menyiapkan sistem transportasi publik secara optimal di tengah tingginya permintaan.
Salah satu kisah datang dari Resky Andi (30), perantau di Jakarta yang harus menempuh perjalanan panjang dan berlapis untuk mencapai kampung halamannya di Bondowoso, Jawa Timur.
Sejak merantau pada 2023, ia terbiasa menggunakan kombinasi pesawat dari Jakarta ke Surabaya, kereta api menuju Jember, dan bus untuk mencapai tujuan akhir.
Perjalanan tersebut menghabiskan biaya sekitar Rp1,65 juta untuk sekali mudik, mencerminkan tingginya ongkos mobilitas saat musim Lebaran.
Meski harus berpindah moda transportasi, Resky mengaku pelayanan yang diberikan tetap konsisten dan memuaskan tanpa adanya penurunan kualitas.
“Dari sisi pelayanan oke. Jadwal keberangkatan on time, fasilitas juga nyaman, termasuk toilet yang bersih. Baik pesawat maupun kereta kemarin penuh pemudik, tapi tidak ada penurunan pelayanan,” ujar Resky ketika ditemui di Stasiun Jember, Jawa Timur, Kamis (26/3).
Bagi Resky, mudik bukan sekadar tradisi, melainkan tanggung jawab pribadi sebagai anak yang ingin tetap hadir di tengah keluarga.
Sebagai anak terakhir, ia merasa memiliki kewajiban moral untuk pulang, terlebih kondisi orang tuanya yang semakin menua dan sang ayah akan segera memasuki masa pensiun.
Keterbatasan waktu libur tidak mengurangi makna kebersamaan, meski ia hanya bisa pulang dari H-3 hingga H+3 Lebaran.
“Yah, kalau Lebaran memang mahal. Tapi demi bertemu orang tua di kampung, saya ikhlas. Toh saya hanya bisa pulang sekali setahun karena kerjaan banyak banget di Jakarta,” ujar Resky.
Cerita serupa juga disampaikan Dewi (35), pekerja swasta yang telah merantau sejak 2012 dan rutin pulang kampung setiap tahun.
Ia menilai arus mudik tahun ini tetap terkendali meski jumlah pemudik meningkat signifikan.
Dalam perjalanannya menuju Banyuwangi, Dewi memilih menggunakan kereta api Singosari kelas ekonomi dengan harga tiket sekitar Rp500 ribu.
Perjalanan selama kurang lebih 12 jam itu dinilai tetap nyaman berkat peningkatan fasilitas yang dilakukan operator.
“Kereta ekonomi sekarang tempat duduknya sudah 2-2, jadi lumayan nyaman lah walaupun perjalanan jauh,” ujar Dewi.
Namun demikian, Dewi menyoroti tantangan klasik yang masih terjadi setiap musim mudik, yakni sulitnya mendapatkan tiket.
Ia berharap pemerintah dapat meningkatkan jumlah armada transportasi untuk mengimbangi lonjakan permintaan masyarakat.
“Saya berharap armada kendaraan umum tiap Lebaran ditambah jumlahnya. Karena pemudik ini kan banyak. Supaya lebih mudah dapat tiket pulang,” harapnya.
Pemerintah sendiri terus melakukan berbagai langkah strategis untuk menjaga stabilitas layanan transportasi selama periode mudik Lebaran.
Upaya tersebut mencakup peningkatan kapasitas, pengawasan operasional, serta optimalisasi fasilitas demi memastikan perjalanan masyarakat berlangsung aman, lancar, dan nyaman.
Keberhasilan menjaga kelancaran mudik tahun ini menjadi indikator positif bahwa sistem transportasi nasional semakin siap menghadapi lonjakan mobilitas tahunan.***