Ancaman kesehatan serius kini membayangi seiring munculnya fenomena El Nino dengan intensitas ekstrem yang dijuluki “Godzilla”. Cuaca panas yang menyengat, penurunan kualitas udara, hingga krisis air bersih menjadi pemicu utama melonjaknya berbagai penyakit berbahaya di tengah masyarakat.
Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Publik Kemenkes RI, Aji Muhawarman, memperingatkan bahwa kemarau panjang tahun 2026 ini bukan sekadar soal cuaca panas, melainkan ancaman nyata bagi stabilitas kesehatan nasional.
Berdasarkan peringatan resmi Kemenkes RI dan referensi kesehatan global, berikut adalah daftar penyakit yang berpotensi melonjak drastis:
1. ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Akut)
Tanpa hujan, polutan di udara tidak “tercuci” dan bertahan lebih lama di atmosfer. Kondisi ini diperparah oleh debu dan kabut asap kebakaran hutan. Gejalanya mulai dari batuk, tenggorokan kering, hingga sesak napas.
2. DBD (Demam Berdarah Dengue)
Meski kemarau, genangan air yang terbatas justru menjadi sarang favorit nyamuk Aedes aegypti. Pola cuaca yang tidak menentu selama El Nino terbukti meningkatkan kasus DBD hingga 60% di wilayah terdampak.
3. Malaria
Suhu udara yang lebih hangat mempercepat siklus hidup nyamuk Anopheles. Masyarakat diimbau waspada jika mengalami demam disertai menggigil dan nyeri otot hebat.
4. Diare
Kekeringan membuat akses terhadap air bersih menjadi barang mewah. Penurunan kualitas sanitasi memicu penyebaran bakteri penyebab diare yang jika tidak ditangani bisa menyebabkan dehidrasi fatal.
5. Tifoid (Tipes)
Bakteri Salmonella typhi sangat mudah menyebar melalui makanan atau minuman yang terkontaminasi air yang tidak higienis. Gejalanya meliputi demam berkepanjangan dan lemas luar biasa.
6. Kolera
Penyakit ini mengintai di area dengan sanitasi buruk dan air payau yang hangat. Kolera dapat menyebabkan diare berat dalam waktu sangat singkat dan kram otot yang menyiksa.
7. Leptospirosis
Bakteri yang menyebar melalui urin hewan (terutama tikus) ini tetap menjadi ancaman di lingkungan dengan sanitasi buruk, terutama saat sumber air terbatas dan tercemar.
Langkah Mitigasi: Jangan Tunggu Tumbang
Kemenkes menekankan agar seluruh fasilitas kesehatan di daerah bersiaga penuh menghadapi lonjakan pasien. Namun, pencegahan terbaik tetap ada di tangan masyarakat dengan:
-
Menjaga kebersihan lingkungan secara mandiri.
-
Memastikan air konsumsi direbus hingga benar-benar matang.
-
Menggunakan masker saat kualitas udara memburuk akibat debu atau asap.