JAKARTA — Perang antara Amerika Serikat/Israel dengan Iran yang Meletus pada Sabtu (28/2/2026), telah memicu Iran untuk menutup Selat Hormuz dengan melarang kapal-kapal untuk melintasinya. Selat Hormuz sendiri adalah jalur strategis yang menjadi jalur perdagangan penting untuk energi global, terutama minyak. Sebanyak 20% minyak yang didistribusikan ke berbagai wilayah di dunia akan melewati jalur ini sehingga ditutupnya Selat Hormuz akan mengganggu pasokan minyak di berbagai negara.
Di antara tujuh negara Asia yang bergantung pada pasokan minyak dari Timur Tengah, Indonesia mencatat cadangan bahan bakar paling minim. Dilansir dari infografis Kompas.com, berikut negara-negara yang pasokan minyaknya terancam jika Selat Hormuz ditutup—diurutkan dari yang paling rentan.
1. Indonesia
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia menyebut cadangan BBM nasional saat ini hanya cukup untuk sekitar 20 hari. Angka itu paling kecil di antara negara-negara dalam daftar ini. Jika konflik di kawasan Teluk berlarut dan mengganggu jalur distribusi, Indonesia berpotensi menjadi negara yang paling cepat merasakan dampaknya, baik dari sisi harga maupun ketersediaan energi.
2. Thailand
Pemerintah Thailand mencatat cadangan minyak yang tersedia saat ini sekitar 61 hari konsumsi, termasuk stok dalam negeri dan minyak yang masih dalam perjalanan. Negara ini sangat bergantung pada impor minyak dengan nilai setara 4,7 persen dari produk domestik bruto. Jika harga minyak naik atau pasokan terganggu, tekanan terhadap ekonomi dan defisit transaksi berjalan berpotensi meningkat.
3. India
India merupakan salah satu pengimpor energi terbesar di dunia dan masih sangat bergantung pada pasokan dari kawasan Teluk Persia. Cadangan minyak strategisnya diperkirakan cukup untuk sekitar 74 hari, tersebar di gua bawah tanah, kilang, serta fasilitas penyimpanan di sejumlah pelabuhan. Jika blokade berlangsung lama, lonjakan harga energi berpotensi memperbesar beban impor dan subsidi energi di dalam negeri.
4. China
China mengimpor lebih dari separuh minyak lautnya dari Timur Tengah, dengan sekitar seperempat di antaranya berasal dari Iran. Cadangan minyaknya diperkirakan cukup untuk 115 hari. Meskipun memiliki jalur pipa alternatif dari Rusia dan Kazakhstan, gangguan di Selat Hormuz tetap berisiko mengganggu pasokan dan mendorong lonjakan harga energi di dalam negeri.
5. Taiwan
Taiwan mengimpor lebih dari 96 persen kebutuhan energinya dari luar negeri. Cadangan minyaknya sekitar 120 hari, tetapi cadangan gas alamnya hanya sekitar 11 hari. Jika krisis berlangsung berkepanjangan, pasokan listrik bisa terganggu dan berdampak pada industri semikonduktor yang menjadi tulang punggung ekonomi global.
6. Korea Selatan
Sekitar 70 persen minyak mentah Korea Selatan berasal dari kawasan Teluk, dengan cadangan sekitar 219 hari. Meskipun stok relatif aman, lonjakan harga energi tetap bisa memperburuk neraca perdagangan dan menekan sektor industri yang bergantung pada impor bahan bakar.
7. Jepang
Lebih dari 90 persen pasokan minyak Jepang melewati Selat Hormuz. Cadangan energinya sekitar 254 hari, termasuk yang terbesar di Asia. Meski demikian, ketergantungan struktural yang sangat tinggi pada impor membuat Jepang tetap rentan. Kenaikan harga minyak akan langsung menekan perekonomian dan membebani rumah tangga.