RIYADH, ARAB SAUDI – Sejumlah negara Arab di kawasan Teluk mengungkapkan kekecewaan mendalam terhadap Amerika Serikat yang dinilai tidak memberikan perlindungan memadai saat wilayah mereka menjadi sasaran serangan balasan Iran. Para pejabat Teluk juga mengeluhkan kurangnya pemberitahuan dini untuk mempersiapkan diri menghadapi gempuran drone dan rudal Teheran.
Laporan yang diterbitkan kantor berita AP mengungkapkan bahwa negara-negara Teluk merasa menjadi pihak yang terkena dampak langsung dari eskalasi konflik yang dipicu serangan AS dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari lalu—yang kini telah berkembang menjadi perang regional yang meluas di Timur Tengah.
“Dua pejabat dari negara-negara Teluk mengatakan pemerintah mereka kecewa dengan cara AS menangani perang ini, khususnya serangan awal terhadap Iran pada Sabtu pekan lalu,” demikian isi laporan tersebut.
Para pejabat yang berbicara dengan syarat anonim karena membahas masalah diplomatik sensitif ini menegaskan bahwa negara mereka tidak mendapatkan pemberitahuan terlebih dahulu tentang serangan AS-Israel. Mereka juga mengeluh bahwa Washington telah mengabaikan peringatan mereka bahwa perang akan berdampak menghancurkan bagi seluruh kawasan.
Salah seorang pejabat bahkan mengungkapkan kemarahan karena militer AS dinilai tidak cukup membela negara-negara Teluk. “Ada keyakinan di kawasan bahwa operasi AS berfokus pada membela Israel dan pasukan Amerika, sementara negara-negara Teluk dibiarkan melindungi diri mereka sendiri,” katanya, seraya menambahkan bahwa persediaan rudal pencegat negara itu “berkurang dengan cepat.”
Pemerintah Arab Saudi, Kuwait, dan Bahrain belum memberikan tanggapan resmi atas permintaan komentar terkait laporan ini.
Tanggapan Gedung Putih
Juru bicara Gedung Putih Anna Kelly memberikan respons dengan menyatakan bahwa serangan balasan Iran telah berkurang 90 persen berkat Operasi Epic Fury.
“Presiden Donald Trump berhubungan erat dengan semua mitra regional kami, dan serangan rezim teroris Iran terhadap negara-negara tetangganya membuktikan betapa pentingnya bagi Presiden Trump untuk menghilangkan ancaman ini bagi negara kita dan sekutu kita,” ujar Kelly.
Sementara itu, Pentagon belum menanggapi permintaan komentar terkait masalah ini.
Kritik Terbuka dari Tokoh Publik
Meskipun reaksi resmi negara-negara Arab Teluk cenderung tenang, sejumlah tokoh publik yang memiliki hubungan dekat dengan pemerintah mereka justru secara terbuka mengkritik AS. Pangeran Turki al-Faisal, mantan kepala intelijen Arab Saudi, dengan tegas menyatakan kepada CNN bahwa Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu telah menyeret Presiden Trump ke dalam perang yang tidak perlu.
“Ini adalah perang Netanyahu,” kata Pangeran Turki al-Faisal. “Dia entah bagaimana meyakinkan presiden (Trump) untuk mendukung pandangannya.”
Kerentanan Pertahanan AS di Kawasan
Para pejabat Pentagon dalam pengarahan tertutup dengan anggota parlemen pekan ini mengakui bahwa mereka kesulitan menghentikan gelombang serangan drone yang diluncurkan Iran. Hal ini membuat sejumlah target AS di wilayah Teluk, termasuk pasukan Amerika, menjadi rentan.
Negara-negara Teluk telah menjadi target berharga bagi Iran karena berada dalam jangkauan rudal jarak pendek Teheran dan dipenuhi target strategis: pasukan Amerika, pusat bisnis dan wisata, serta fasilitas energi yang dapat mengganggu aliran minyak dunia.
Berdasarkan perhitungan AP dari pernyataan resmi, sejak awal perang Iran telah menembakkan setidaknya 380 rudal dan lebih dari 1.480 drone yang menargetkan lima negara Teluk Arab. Korban jiwa tercatat 13 orang tewas di negara-negara tersebut menurut pejabat setempat.
Insiden paling mematikan terjadi pada Minggu lalu ketika enam tentara AS tewas di Kuwait setelah serangan drone Iran menghantam pusat operasi di pelabuhan sipil, berjarak lebih dari 10 mil dari pangkalan utama Angkatan Darat. Suami dari salah satu tentara yang tewas mengungkapkan bahwa pusat operasi tersebut hanyalah bangunan bergaya kontainer pengiriman tanpa pertahanan memadai.
Pengakuan Pentagon
Dalam pengarahan untuk anggota Kongres pada Selasa lalu, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth dan Ketua Kepala Staf Gabungan Jenderal Dan Caine menyampaikan pengakuan mengejutkan. Menurut tiga sumber yang mengetahui pengarahan tersebut, AS tidak akan mampu mencegat banyak UAV Iran yang datang, terutama jenis Shahed.
“Ketika didesak oleh para anggota Parlemen mengapa AS tampaknya tidak siap menghadapi Iran yang meluncurkan gelombang drone ke target AS di wilayah tersebut, Jenderal Caine dan Hegseth tidak memberikan rincian apa pun,” ungkap salah satu sumber.
Seorang pejabat AS yang memahami postur keamanan di kawasan Teluk menegaskan bahwa AS tidak memiliki kemampuan luas di seluruh kawasan untuk secara efektif melawan gelombang drone satu arah yang menargetkan lokasi-lokasi di luar pangkalan konvensional di Irak dan Suriah.
Serangan drone pekan ini bahkan mencapai gedung kedutaan besar di Riyadh, Arab Saudi, menyebabkan kebakaran kecil. Insiden serupa terjadi di Dubai, Uni Emirat Arab, ketika serangan drone memicu kebakaran kecil di luar konsulat AS.
Meminta Bantuan Ukraina
Dalam perkembangan mengejutkan, AS dan sekutunya di Timur Tengah pada Kamis lalu bahkan meminta bantuan dari Ukraina yang memiliki keahlian melawan drone Shahed Iran. Permintaan ini dibenarkan oleh Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky.
Ketika dimintai konfirmasi, Trump mengatakan kepada Reuters, “Tentu saja, saya akan menerima, Anda tahu, bantuan apa pun dari negara mana pun.”
Pandangan Analis
Bader Mousa Al-Saif, analis yang berbasis di Kuwait dari Chatham House, menilai AS telah meremehkan risiko terhadap sekutu Arab Teluknya dengan asumsi bahwa pasukan Amerika dan Israel akan menjadi target utama pembalasan Iran.
“Saya rasa mereka tidak melihat bahwa akan ada banyak risiko bagi negara-negara Teluk. Kurangnya rencana untuk melindungi negara-negara Teluk menunjukkan pandangan sempit AS,” tegasnya.
Sumber lain yang mengetahui masalah diplomatik sensitif ini mengungkapkan bahwa frustrasi di negara-negara Teluk juga dipicu oleh keberhasilan relatif Israel dalam menembak jatuh drone dan rudal dibandingkan beberapa negara tetangganya. Meskipun sistem pertahanan udara Teluk memang tidak sekuat Israel, para pejabat AS disebut bingung mengapa negara-negara Teluk belum menunjukkan keinginan untuk meluncurkan serangan balasan ke target Iran.
Kekhawatiran Eskalasi
Elliott Abrams, yang menjabat sebagai perwakilan khusus untuk Iran dan Venezuela pada akhir masa jabatan pertama Trump, mengakui bahwa para pejabat keamanan nasional AS dan sekutu Teluk menyadari kemampuan Iran melakukan serangan signifikan.
“Negara-negara tetangga mengetahuinya dan takut akan hal itu. Tetapi tidak pernah jelas apakah Iran akan benar-benar melakukannya, karena mereka memiliki banyak hal yang akan hilang. Serangan-serangan ini akan meninggalkan permusuhan jangka panjang, dan jika terus berlanjut, negara-negara Arab Teluk mungkin akan mulai menyerang Iran,” kata Abrams.
Michael Ratney, mantan duta besar AS untuk Arab Saudi yang kini menjadi penasihat senior di program Timur Tengah Center for Strategic and International Studies, menyoroti dilema yang dihadapi negara-negara Teluk.
“Meskipun negara-negara Teluk memiliki kepentingan untuk melihat Iran melemah, mereka juga memiliki kekhawatiran utama tentang perang yang sedang berlangsung—termasuk kerusakan ekonomi dan ketidakstabilan yang ditimbulkannya serta sifatnya yang tidak pasti. Apa yang akan terjadi selanjutnya? Negara-negara Teluk harus menanggung dampak terberat dari apa pun itu,” pungkas Ratney.