ACEH – Pascabanjir bandang yang melanda Kabupaten Pidie Jaya, Provinsi Aceh, aktivitas ekonomi masyarakat pesisir mulai bangkit. Nelayan setempat kini kembali dapat melaut dengan lancar berkat upaya normalisasi Sungai Krueng Meureudu yang dilakukan Kementerian Pekerjaan Umum (PU).
Balai Wilayah Sungai (BWS) Sumatera I Aceh di bawah Kementerian PU berhasil membuka alur sungai sepanjang 5,7 kilometer, mulai dari Jembatan Jalan Nasional ruas Meureudu–Batas Pidie Jaya hingga muara sungai. Langkah ini memungkinkan perahu nelayan yang sebelumnya terhambat sedimen akibat banjir bandang kembali berlayar ke laut untuk mencari nafkah.
Penanganan darurat tersebut meliputi pembersihan material kayu, pengangkatan sedimen, pelebaran alur sungai, serta perbaikan di sejumlah titik kritis. Hasilnya, sungai kini mampu menampung debit air hingga kala ulang lima tahunan. Kondisi ini diharapkan dapat mengurangi risiko banjir susulan sekaligus melindungi infrastruktur jalan dan jembatan di wilayah rawan hidrometeorologi.
Menteri PU Dody Hanggodo menegaskan percepatan pemulihan infrastruktur pascabencana tidak hanya bertujuan untuk mitigasi risiko, tetapi juga untuk menggerakkan kembali roda ekonomi masyarakat.
“Kementerian PU berkomitmen terus hadir dalam penanganan bencana di Aceh untuk memastikan kehadiran negara benar-benar dirasakan oleh masyarakat, terutama di masa-masa sulit pascabencana,” kata Dody.
Kementerian PU terus memantau perkembangan kondisi sungai dan infrastruktur pendukung lainnya, sekaligus menyiapkan langkah penanganan jangka panjang. Dengan pulihnya fungsi Sungai Krueng Meureudu, sektor perikanan dan aktivitas ekonomi pesisir Pidie Jaya diharapkan dapat kembali normal sepenuhnya serta meningkatkan ketahanan daerah terhadap potensi bencana serupa di masa mendatang.
Pemulihan ini menjadi bukti komitmen pemerintah dalam mendukung masyarakat Aceh pascabencana alam, khususnya di sektor sumber daya air yang memiliki peran vital bagi kehidupan sehari-hari.