JAKARTA – Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu dijadwalkan berangkat ke Amerika Serikat pada 10 Februari untuk bertemu dengan Presiden Donald Trump di Gedung Putih. Kunjungan resmi ini dipandang sebagai upaya Israel memengaruhi jalannya pembicaraan antara Washington dan Teheran mengenai program nuklir.
Dilansir dari Hurriyet Daily News, Selasa (10/2/2026), pertemuan pada 11 Februari akan menjadi pertemuan ketujuh antara Trump dan Netanyahu sejak awal masa jabatan kedua presiden AS. Israel menuntut agar negosiasi yang dimediasi Oman tidak hanya membahas program nuklir, tetapi juga mencakup penghentian total pengayaan uranium, pembatasan program rudal Iran, serta penghentian dukungan Teheran terhadap sekutu regional.
Namun, setelah putaran pertama pembicaraan AS–Iran pada 6 Februari di Oman, pejabat Israel meragukan komitmen Trump terhadap tuntutan Tel Aviv. Surat kabar Maariv melaporkan adanya “ketidakpastian mendalam di Israel mengenai arah yang diambil presiden Amerika Serikat terkait isu Iran.”
Israel menilai momentum saat ini sebagai kesempatan langka, dengan AS memobilisasi kekuatan besar yang diyakini mampu menekan Iran. Lembaga penyiaran publik Israel, KAN, menyebut Netanyahu ingin memastikan pertemuannya dengan Trump dapat “memengaruhi jalannya pembicaraan” agar tidak terbatas pada isu nuklir semata.
