JAKARTA — Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu pada Rabu melakukan kunjungan ke markas besar pasukan multinasional pimpinan Amerika Serikat (AS) yang bertugas mengawasi pelaksanaan gencatan senjata di Gaza, berlokasi di Kiryat Gat, wilayah selatan Israel.
Menurut pernyataan dari kantor perdana menteri, Netanyahu juga bertemu dengan Komandan Komando Pusat AS (CENTCOM), Laksamana Bradley Cooper, untuk membahas rencana bersama terkait masa depan Gaza.
“Saya senang menyambut teman-teman Amerika kami di Kiryat Gat. Mereka bekerja sama dengan kami dalam sebuah rencana untuk mewujudkan Gaza yang berbeda, Gaza yang tidak lagi menjadi ancaman bagi Israel,” kata Netanyahu, dilansir dari Anadolu, Jumat (31/10/2025).
Ia menegaskan bahwa Israel berkomitmen untuk melanjutkan proses pelucutan senjata Hamas dan demiliterisasi Gaza, sesuai dengan tujuan yang telah disepakati dengan Presiden AS Donald Trump.
“Kami ingin mewujudkannya, sehingga pada akhirnya, tujuan yang disepakati oleh Presiden (AS) (Donald) Trump dan kami – pelucutan senjata Hamas dan demiliterisasi Gaza – akan tercapai. Kami sedang mengerjakan ini secara bertahap, bersama dengan komponen-komponen lain dari rencana ini,” tambahnya.
Kunjungan Netanyahu ke Pusat Koordinasi Sipil-Militer CENTCOM dilakukan sehari setelah militer Israel melancarkan serangan udara di Jalur Gaza yang menewaskan lebih dari 100 warga Palestina, termasuk 46 anak-anak, menurut data Kementerian Kesehatan Palestina. Serangan tersebut dinilai sebagai pelanggaran terhadap perjanjian gencatan senjata antara Israel dan Hamas yang berlaku sejak 10 Oktober 2025.
Selain korban tewas, 253 warga Palestina dilaporkan mengalami luka-luka, di antaranya 78 anak-anak dan 84 perempuan.
Data dari Kementerian Kesehatan Palestina menunjukkan bahwa sejak gencatan senjata diberlakukan, sedikitnya 211 orang tewas dan 597 lainnya terluka akibat serangan Israel.
Sejak konflik pecah pada Oktober 2023, total korban di Jalur Gaza telah mencapai lebih dari 68.600 orang tewas—sebagian besar perempuan dan anak-anak—serta lebih dari 170.600 orang terluka akibat operasi militer Israel.