JAKARTA – Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, menegaskan bahwa perlintasan perbatasan Rafah antara Gaza dan Mesir akan tetap ditutup hingga pemberitahuan lebih lanjut. Keputusan ini bergantung pada penyerahan jenazah para sandera oleh Hamas. Pernyataan tersebut dikeluarkan setelah Kedutaan Besar Palestina di Mesir mengumumkan bahwa perlintasan Rafah akan dibuka untuk memungkinkan warga Gaza masuk, meskipun situasi yang memanas terkait pelanggaran gencatan senjata.
Dilansir dari Reuters, Netanyahu menanggapi tuduhan yang saling dilontarkan antara Israel dan Hamas, terkait pelanggaran gencatan senjata yang diprakarsai Amerika Serikat (AS). Menurut Departemen Luar Negeri AS, mereka telah menerima laporan yang menunjukkan pelanggaran serius dari Hamas yang dapat mengancam stabilitas perjanjian gencatan senjata. AS menegaskan bahwa jika serangan terhadap warga sipil Palestina dilanjutkan, tindakan tegas akan diambil untuk melindungi rakyat Gaza dan menjaga integritas kesepakatan.
Namun, Hamas membantah tuduhan tersebut dan menuding Israel sebagai pihak yang memicu kekerasan dengan mendanai kelompok kriminal di Gaza. Kelompok militan tersebut juga mengecam keputusan Netanyahu sebagai pelanggaran terhadap gencatan senjata dan komitmen yang telah disepakati bersama mediator.
Lebih lanjut, Hamas menyebutkan bahwa penutupan perlintasan Rafah yang berkelanjutan akan memperlambat upaya pencarian jenazah para sandera yang masih terperangkap di bawah reruntuhan. Mereka mengklaim, hal ini menghambat proses pemulihan dan penyerahan jenazah yang diperlukan. Dalam perkembangan terkait, Presiden AS Donald Trump mengungkapkan bahwa ia akan mempertimbangkan untuk memberikan izin kepada pasukan Israel untuk melanjutkan pertempuran di Gaza jika Hamas tidak mematuhi kesepakatan gencatan senjata yang ada.
