JAKARTA – Nuzulul Qur’an merupakan peristiwa turunnya wahyu pertama kepada Nabi Muhammad SAW melalui Malaikat Jibril pada malam 17 Ramadan. Pada tahun 2026, peringatan 17 Ramadan diperkirakan jatuh sekitar awal Maret 2026, menunggu penetapan resmi pemerintah melalui sidang isbat. Peristiwa ini menjadi awal turunnya Al-Qur’an secara bertahap selama kurang lebih 23 tahun, dimulai dengan lima ayat pertama Surah Al-‘Alaq yang memerintahkan manusia untuk membaca.
Al-Qur’an ditegaskan sebagai petunjuk bagi seluruh manusia sebagaimana termaktub dalam Surah Al-Baqarah ayat 185. Karena itu, Nuzulul Qur’an bukan sekadar peristiwa sejarah, melainkan momentum lahirnya cahaya peradaban yang mengubah arah kehidupan umat manusia.
“Nuzulul Qur’an adalah peristiwa yang sangat berharga, karena pada saat itulah wahyu pertama diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW. Momen ini membawa cahaya dan petunjuk bagi umat manusia sepanjang masa,” ujar Ustaz Malik melalui keterangan tertulis kepada Garuda.Tv.
Menurut Ustaz Malik, Nuzulul Qur’an bukan hanya mukjizat bagi Nabi Muhammad SAW, tetapi juga pedoman hidup bagi seluruh umat manusia. Ia menegaskan bahwa nilai-nilai yang terkandung di dalam Al-Qur’an bersifat universal dan relevan sepanjang zaman.
Keutamaan di Bulan Ramadan
Nuzulul Qur’an terjadi di bulan Ramadan, bulan yang penuh berkah dan ampunan. Ramadan menjadi ruang spiritual bagi umat Islam untuk meningkatkan kualitas ibadah, memperbanyak tilawah, serta memperdalam pemahaman terhadap isi Al-Qur’an.
“Di malam Nuzulul Qur’an kita diwajibkan meningkatkan kualitas keimanan dan ketakwaan. Ini momen untuk memperbanyak ibadah dan kembali kepada Al-Qur’an,” kata Ustaz Malik melalui keterangan tertulis kepada Garuda.Tv, Senin (02/02/2026).
Ia menambahkan bahwa selain membaca Al-Qur’an, umat Islam dianjurkan memperbanyak shalat malam, dzikir, dan doa agar memperoleh kemuliaan Lailatul Qadr. Momentum ini menjadi kesempatan emas untuk memperbaiki hubungan dengan Allah SWT.
Namun demikian, Ustaz Malik juga menyoroti tantangan di era digital saat ini.
“Peringatan Nuzulul Qur’an seharusnya menjadi momen untuk kembali menghidupkan semangat membaca dan memahami Al-Qur’an agar kita tidak terputus dari petunjuk Allah,” tambahnya.
Menurutnya, kecenderungan masyarakat yang lebih sering membaca media sosial dibandingkan Al-Qur’an perlu menjadi bahan refleksi bersama.
Titik Balik Peradaban Manusia
Turunnya Al-Qur’an menjadi titik balik penting dalam sejarah peradaban manusia. Dari masyarakat yang sebelumnya diliputi nilai-nilai jahiliyah, Islam menghadirkan ajaran tauhid, keadilan, dan penghormatan terhadap ilmu pengetahuan. Rasulullah SAW dan para sahabat menjadikan Al-Qur’an sebagai rujukan utama dalam setiap sikap dan keputusan.
“Keunggulan para sahabat bukan hanya karena hafalan, tetapi karena mereka mengamalkan isi Al-Qur’an dalam kehidupan,” jelas Ustaz Malik melalui keterangan tertulis kepada Garuda.Tv, Senin (02/02/2026).
Dengan bimbingan wahyu, generasi awal Islam mampu membangun masyarakat yang beradab, disiplin, dan berkeadilan. Hal ini menunjukkan bahwa Al-Qur’an bukan sekadar kitab ritual, melainkan fondasi pembangunan moral dan sosial.
Dari Bacaan Menuju Pengamalan
Fenomena yang muncul di era modern adalah menjadikan Al-Qur’an sebatas bacaan tanpa upaya memahami maknanya secara mendalam. Padahal, membaca merupakan langkah awal menuju pengamalan.
“Membaca saja sudah sangat beruntung, apalagi di tengah kesibukan dengan HP. Tetapi lebih beruntung lagi jika membaca, memahami, dan mengamalkannya,” melalui keterangan tertulis kepada Garuda.Tv, Senin (02/02/2026).
Ia menekankan bahwa orang yang dekat dengan Al-Qur’an akan memperoleh ketenangan hati serta pahala yang terus mengalir. Membaca Al-Qur’an tidak pernah merugikan, justru menjadi investasi amal untuk kehidupan akhirat.
Aplikasi dalam Kehidupan Modern
Dalam kehidupan sehari-hari, nilai-nilai Al-Qur’an dapat diterapkan dalam berbagai aspek. Di lingkungan keluarga, ajaran tentang kasih sayang dan tanggung jawab harus menjadi landasan. Dalam dunia pendidikan, semangat membaca dan menuntut ilmu perlu ditanamkan sejak dini. Di tempat kerja, kejujuran dan profesionalisme harus dijunjung tinggi. Sementara dalam kehidupan sosial, nilai keadilan dan kepedulian menjadi fondasi kebersamaan.
“Segala perbuatan baik sudah termaktub dalam Al-Qur’an. Kita sebagai muslim wajib mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari,” tegas Ustaz Malik.
Ia menambahkan bahwa Al-Qur’an yang menjadi sumber kemuliaan umat di masa Rasulullah SAW tetap terjaga keasliannya hingga hari ini. Karena itu, Nuzulul Qur’an seharusnya menjadi momentum untuk membumikan ajaran wahyu dalam realitas kehidupan modern.
Dengan demikian, Nuzulul Qur’an bukan hanya peringatan tahunan, melainkan ajakan untuk kembali menjadikan Al-Qur’an sebagai cahaya peradaban dan pedoman hidup umat Islam sepanjang zaman.