SUMUT – Kekerasan yang melibatkan oknum prajurit TNI kembali terjadi di Deli Serdang. Setelah insiden serupa pada November 2024, pada Rabu (29/1/2025), puluhan prajurit TNI menyerang warung warga di Desa Durin Simbelang, Kecamatan Pancur Batu, yang memicu kecaman dari masyarakat setempat.
Penyerangan tersebut dipicu oleh insiden pengeroyokan terhadap seorang prajurit TNI, Praka Darma Saputra Lubis.
Kapendam I Bukit Barisan, Kolonel Dody Yudha mengaakan peristiwa bermula ketika Praka Darma melintas di Jalan GBKP, Dusun Lau Gelunggung, dan berpapasan dengan tiga pemuda yang mengendarai sepeda motor trail.
Ketiga pemuda tersebut menggeber-geber motor mereka, yang membuat Praka Darma merasa terganggu. Dia pun mengikuti mereka hingga ke sebuah warung warga di desa tersebut.
Di warung itulah, Praka Darma mencoba menegur para pemuda tersebut, namun teguran tersebut tidak diterima dengan baik dan terjadi cekcok mulut. Tak lama, sekitar 10 pemuda lain bergabung, dan Praka Darma pun dikeroyok. Kekalahan jumlah membuat Praka Darma harus melarikan diri dan bersembunyi di kebun sawit terdekat, setelah mendapat pukulan kayu di wajah dan punggungnya.
Khawatir atas keselamatan rekannya, Praka Darma meminta bantuan melalui grup WhatsApp. Tak lama setelah itu, sekitar 40 prajurit TNI dari Resimen Arhanud-2/SSM datang ke lokasi dan melakukan penyerangan terhadap warung warga yang dianggap sebagai tempat kejadian.
Serangan tersebut menyebabkan kerusakan pada tiga sepeda motor, sebuah mobil, dan warung milik warga.
Meskipun situasi akhirnya dapat dikendalikan setelah penyelesaian secara kekeluargaan, insiden ini tetap memicu kekhawatiran terkait tindakan kekerasan yang melibatkan prajurit TNI.
Kepala Staf Resimen Arhanud-2/SSM, Letkol Arip Budi Cahyono, menyatakan bahwa pihaknya bertanggung jawab atas kerusakan materiil yang terjadi dan telah melakukan mediasi dengan para korban.
“Kami dari satuan, datang dan hadir dengan iktikad baik ke sini. Kami sangat menyayangkan kejadian ini,” ujar Arip Budi.
Penyerangan ini bukanlah yang pertama kalinya terjadi di Deli Serdang. Sebelumnya, pada November 2024, puluhan prajurit TNI dari Batalyon Artileri Medan (Armed) 2/105 juga terlibat dalam penyerangan di Desa Selamat, Deli Serdang.
Dalam insiden tersebut, seorang warga bernama Raden Barus tewas, sementara 13 lainnya terluka. Selain itu, banyak anak-anak sekolah yang merasa trauma dan enggan untuk bersekolah setelah kejadian tersebut.
Panglima TNI, Jenderal Agus Subiyanto, menyatakan bahwa kedua insiden tersebut berawal dari perselisihan yang melibatkan kelompok geng motor dan prajurit TNI.
Sebagai respons, 45 prajurit yang terlibat dalam penyerangan di Desa Selamat telah diamankan oleh Polisi Militer Daerah Militer (Pomdam) I Bukit Barisan, dengan 25 prajurit telah ditetapkan sebagai tersangka, sementara 20 lainnya diberikan pembinaan.
Kejadian ini semakin menambah daftar insiden penyerangan yang melibatkan prajurit TNI, menuntut perhatian serius dari pihak berwenang untuk mencegah kejadian serupa terulang di masa depan.