Hanya tiga hari setelah penobatan dramatis Miss Universe 2025 di Impact Challenger Hall, dunia pageant kembali diguncang. Olivia Yacé, wakil Côte d’Ivoire yang memukau di Top 5 dan dijuluki “pemenang sejati” oleh netizen, secara resmi mengembalikan mahkota Miss Universe Africa & Oceania.
Pengumuman ini, yang disampaikan melalui Instagram pribadinya pada 24 November, memicu gelombang dukungan dan spekulasi tentang konflik di balik layar edisi ke-74 kontes kecantikan terbesar ini. “Saya mundur untuk tetap setia pada nilai-nilai saya: hormat, martabat, keunggulan, dan kesempatan setara,” tulis Yacé, menandai akhir afiliasinya dengan komite Miss Universe.
Perjalanan Olivia Yacé: Dari Abidjan ke Panggung Dunia, Hingga Top 5 yang Bikin Heboh
Olivia Yacé, 27 tahun, lahir dan besar di Abidjan, Côte d’Ivoire – negara Afrika Barat yang dikenal dengan pantai indahnya dan warisan kolonial Prancis. Debut Côte d’Ivoire di Miss Universe 2025 menjadi sorotan, terutama karena Yacé mewakili negara yang jarang bersinar di panggung global.
Pada malam final 21 November, ia tampil memukau di ronde swimsuit dan evening gown, sebelum memasuki Top 5 bersama Fátima Bosch (Meksiko, pemenang), Praveenar Singh (Thailand, Runner-Up 1), Stephany Abasali (Venezuela, Runner-Up 2), dan Ahtisa Manalo (Filipina, Runner-Up 3). Jawaban Yacé di sesi Q&A – tentang mengajarkan self-love pada anak agar mereka “bersinar dan mengasumsikan identitas mereka” – langsung viral.
Prestasi ini membawa Yacé ke gelar Miss Universe Africa & Oceania, yang ditawarkan pasca-koroni oleh panitia. Namun, kegembiraan itu singkat. Tiga hari kemudian, organisasi Miss Côte d’Ivoire (COMICI) mengonfirmasi di Facebook: “Olivia Yacé mundur dari gelar Miss Universe Africa & Oceania karena alasan pribadi.”
Yacé sendiri mengonfirmasi di Instagram: “Saya mampu berprestasi besar meski dihadapkan kesulitan, tapi peran yang direndahkan ini tak selaras dengan visi saya.”
Alasan di Balik Pengembalian Mahkota
Pengembalian mahkota ini bukan sekadar keputusan pribadi, tapi puncak dari drama Miss Universe 2025 yang penuh kontroversi. Yacé menyiratkan bahwa gelar regionalnya “direndahkan” oleh panitia, yang kontras dengan perjuangannya sebagai duta kesetaraan.
“Untuk melanjutkan jalan ini, saya harus tetap autentik,” tulisnya, menekankan komitmennya pada “hormat dan kesempatan setara” – nilai yang ia bela sepanjang kompetisi.
Miss Universe 2025 dirundung tuduhan rigging, termasuk voting People’s Choice yang diperpanjang mendadak (Paraguay naik dari bawah ke 1,6 juta suara dalam satu jam) dan hubungan pribadi juri dengan Miss Paraguay.
Nawat Itsaragrisil, eksekutif Miss Universe Thailand, juga dikritik atas konfrontasi dengan kontestan lain, termasuk walkout massal. Mantan juri Omar Harfouch mundur, menyebut “pemilihan semifinalis dan hasil akhir mencurigakan.” Bahkan host Steve Byrne mengundurkan diri pasca-koroni, sambil berdoa untuk Miss Jamaica yang kritis akibat jatuh.