Oleh: Hamidin
Di tengah dunia yang semakin gaduh oleh konflik dan pertarungan kepentingan geopolitik, upaya Türkiye memediasi Amerika Serikat dan Iran patut dibaca sebagai cahaya kecil yang menyala di tengah gelapnya ancaman perang. Ketika bahasa kekuatan militer, sanksi ekonomi, dan ultimatum politik semakin dominan, Ankara justru memilih jalur yang semakin jarang ditempuh: diplomasi damai yang berangkat dari kepedulian terhadap nasib umat manusia.
Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran bukanlah persoalan baru. Ia berakar pada sejarah panjang ketidakpercayaan sejak Revolusi Iran 1979, diperparah oleh isu nuklir, sanksi ekonomi, dan rivalitas pengaruh di Timur Tengah. Namun, eskalasi terbaru—ditandai dengan pengerahan armada militer Amerika Serikat dan retorika ancaman terbuka—menempatkan dunia pada titik yang sangat berbahaya. Perang AS–Iran bukan sekadar konflik dua negara, melainkan potensi bencana global.
Penutupan Selat Hormuz, misalnya, akan mengguncang pasokan energi dunia. Harga minyak bisa melonjak drastis, memicu inflasi global, melemahkan ekonomi negara berkembang, dan memperdalam ketimpangan sosial. Dalam dunia yang belum sepenuhnya pulih dari krisis pandemi dan ketidakpastian ekonomi, perang semacam ini akan menjadi pukulan berlapis bagi jutaan manusia tak bersalah.
Di sinilah peran Turki menjadi relevan dan strategis. Sebagai anggota NATO dengan identitas Islam yang kuat, Türkiye memiliki posisi unik yang tidak dimiliki banyak negara. Ankara dapat berbicara dengan Washington sebagai sekutu, sekaligus diterima Teheran sebagai mitra dialog yang memahami sensitivitas politik dan kultural kawasan. Modal inilah yang membuat Türkiye berpotensi menjadi jembatan damai, bukan sekadar penonton konflik.
Presiden Recep Tayyip Erdogan berulang kali menegaskan bahwa perdamaian bukan tanda kelemahan, melainkan bentuk keberanian moral. Pernyataan bahwa “tidak ada yang kalah dalam perdamaian yang adil” mencerminkan visi politik luar negeri Türkiye yang menempatkan stabilitas dan kemanusiaan di atas ambisi kekuasaan jangka pendek. Rekam jejak Ankara dalam memediasi konflik—mulai dari Rusia–Ukraina melalui kesepakatan gandum Laut Hitam, hingga berbagai upaya de-eskalasi di Timur Tengah—menunjukkan konsistensi tersebut.
Upaya memfasilitasi dialog antara Amerika Serikat dan Iran harus dipahami sebagai ikhtiar mencegah tragedi, bukan pembelaan terhadap salah satu pihak. Diplomasi Türkiye justru bertujuan memutus rantai salah perhitungan yang sering kali menjadi pemicu perang besar. Dalam konflik modern, satu kesalahan kecil dapat berujung pada kehancuran massal yang tak terkendali.
Tekanan internasional terhadap Iran, termasuk sanksi Uni Eropa dan Inggris, memang berangkat dari keprihatinan atas isu hak asasi manusia dan stabilitas kawasan. Namun, sejarah menunjukkan bahwa sanksi tanpa jalur dialog sering kali justru memperkuat kelompok garis keras, mempersempit ruang kompromi, dan mendorong negara terisolasi mencari pelindung baru dalam poros kekuatan global yang saling berhadapan. Tanpa diplomasi, sanksi bisa berubah dari alat tekanan menjadi bahan bakar eskalasi.
Türkiye menawarkan jalan tengah: dialog yang tegas namun bermartabat. Pendekatan ini tidak menafikan prinsip, tetapi menghindari logika “menang-kalah” yang selama ini mendominasi konflik Timur Tengah. Iran yang terintegrasi dalam tatanan global jauh lebih aman bagi dunia dibanding Iran yang terpojok dan terisolasi. Demikian pula Amerika Serikat akan lebih dihormati bukan karena daya hancur militernya, melainkan karena kepemimpinannya dalam menjaga perdamaian.
Keberhasilan mediasi ini akan membawa manfaat luas bagi dunia. Stabilitas Timur Tengah berarti stabilitas energi global, penurunan tekanan inflasi, dan berkurangnya potensi konflik turunan di kawasan seperti Yaman, Lebanon, dan Suriah. Bagi negara-negara seperti Indonesia, dampaknya sangat nyata: nilai tukar yang lebih stabil, harga pangan yang lebih terkendali, dan iklim ekonomi yang lebih sehat.
Lebih dari itu, keberhasilan Türkiye akan menjadi penegasan bahwa dunia belum kehilangan akal sehat. Ia menghidupkan kembali semangat Piagam PBB yang menempatkan dialog, mediasi, dan penyelesaian damai sebagai jalan utama menyelesaikan sengketa. Pada era ketika kekuatan senjata sering dipamerkan sebagai solusi, diplomasi Türkiye mengingatkan bahwa keberanian sejati justru terletak pada kemampuan menahan diri.
Indonesia, sebagai negara yang berbatasan dengan banyak negara di darat, laut, dan udara, memiliki kepentingan langsung dalam menjaga perdamaian kawasan dan dunia. Pengalaman menyelesaikan konflik melalui dialog—seperti di Aceh—menjadi bukti bahwa perdamaian bukan utopia. Oleh karena itu, Indonesia dan negara-negara lain seharusnya mendukung setiap inisiatif damai, baik secara bilateral, regional, maupun melalui PBB.
Pada akhirnya, dunia membutuhkan lebih banyak jembatan dialog dan lebih sedikit jurang konflik. Jika pertemuan Amerika Serikat dan Iran benar-benar terwujud melalui fasilitasi Türkiye, maka itu bukan hanya kemenangan diplomasi Ankara, melainkan kemenangan kemanusiaan global. Perdamaian memang rapuh, tetapi perang jauh lebih kejam dan mematikan.
Sejarah kelak akan mencatat siapa yang memilih mengobarkan api, dan siapa yang berusaha memadamkannya. Upaya Türkiye hari ini adalah pengingat bahwa harapan damai masih ada—dan kewajiban moral kita bersama adalah menjaganya tetap hidup, demi generasi hari ini dan generasi yang akan datang.
Tentang Penulis
Hamidin adalah pemerhati isu geopolitik, perbatasan, dan perdamaian internasional. Aktif menulis opini dan esai analisis strategis di berbagai media nasional dengan fokus pada diplomasi, kedaulatan, dan kemanusiaan.
