JAKARTA – Ajang Academy Oscar Awards ke-98 yang digelar di Dolby Theatre Minggu malam (15/3/2026) waktu setempat tidak hanya dipenuhi kemewahan khas Hollywood, tetapi juga diwarnai pernyataan politik dan isu sosial yang mengemuka sepanjang malam.
Dalam monolog pembuka, pembawa acara Conan O’Brien lebih dulu memberi sinyal bahwa acara tersebut mungkin akan menyentuh ranah politik.
“Saya peringatkan, malam ini bisa jadi bernuansa politis,” kata O’Brien, dilansir dari The Guardian. “Jika itu membuat Anda tidak nyaman, ada ajang Oscar alternatif yang dipandu oleh Kid Rock di Dave & Buster’s di seberang jalan.”
Meski sempat dianggap sebagai candaan khas Hollywood, malam penghargaan film terbesar itu justru benar-benar dipenuhi pernyataan sosial dan politik. Di tengah kemewahan karpet merah, sejumlah pemenang dan presenter memanfaatkan panggung Oscar untuk menyuarakan isu global yang sedang terjadi.
Dominasi film bertema sosial turut memperkuat atmosfer tersebut. Film One Battle After Another karya Paul Thomas Anderson tampil sebagai pemenang terbesar dengan enam penghargaan, termasuk film terbaik. Sementara film Sinners besutan Ryan Coogler membawa pulang empat piala.
Film epik One Battle After Another mengisahkan perjuangan kelompok pemberontak yang melawan rezim pemerintah otoriter yang menahan para imigran di pusat detensi dalam upaya menghidupkan kembali slogan politik nasionalisme Amerika.
Saat menerima penghargaan untuk skenario adaptasi terbaik, Anderson mengaitkan karyanya dengan kondisi dunia saat ini.
“Saya menulis film ini untuk anak-anak saya, untuk meminta maaf atas kekacauan yang kami tinggalkan di dunia yang kami wariskan kepada mereka,” katanya. “Tetapi juga dengan harapan bahwa mereka akan menjadi generasi yang membawa akal sehat dan kesopanan bagi kita.”
Isu politik juga muncul ketika aktor Spanyol Javier Bardem naik ke panggung untuk menyerahkan penghargaan film internasional terbaik.
“No to war, and free Palestine. (Tidak untuk perang, dan bebaskan Palestina.)”
Pernyataan tersebut langsung disambut tepuk tangan penonton di Dolby Theatre.
Sutradara Norwegia Joachim Trier yang memenangkan kategori film internasional terbaik lewat film Sentimental Value turut menyampaikan kritik kepada para pemimpin dunia.
“Semua orang dewasa bertanggung jawab atas semua anak,” katanya. “Jangan memilih politisi yang tidak menganggap serius hal ini.”
Isu keberagaman juga menjadi sorotan malam itu. Akademi sebelumnya memperluas keanggotaannya hingga 40 persen untuk meningkatkan representasi ras dan gender. Pidato para pemenang pun banyak menyinggung pentingnya inklusi di industri film.
Aktor Michael B. Jordan, yang meraih penghargaan aktor terbaik untuk film Sinners, menyoroti peran para pionir aktor kulit hitam di Hollywood.
“Saya berdiri di sini karena orang-orang yang datang sebelum saya,” katanya. Ia menyebut nama-nama seperti Sidney Poitier, Denzel Washington, Halle Berry, Jamie Foxx, Forest Whitaker, dan Will Smith sebagai tokoh yang membuka jalan bagi generasi berikutnya.
Pidato emosional juga datang dari sutradara Maggie Kang saat film animasi K-Pop Demon Hunters memenangkan kategori film animasi terbaik.
“Saya sangat menyesal butuh waktu begitu lama bagi kita untuk melihat diri kita sendiri dalam film seperti ini. Tapi ini dia. Dan itu berarti generasi mendatang tidak perlu lagi merindukannya. Ini untuk Korea dan untuk orang Korea di mana pun.”
Di tengah nuansa serius tersebut, O’Brien tetap menyelipkan humor politik. Ia sempat menyindir mantan Presiden AS Donald Trump yang kerap menamai berbagai institusi dengan namanya sendiri.
“Kita siaran langsung dari ‘teater penis kecil’,” canda O’Brien. “Mari kita lihat apakah dia akan meletakkan namanya di depan itu.”
Momen paling menyentuh malam itu datang dari film dokumenter pendek Netflix All the Empty Rooms yang mengangkat kisah kamar tidur anak-anak korban penembakan di sekolah.
“Putri saya, Jackie, berusia sembilan tahun ketika dia terbunuh,” kata Gloria Cazares.
“Sejak hari itu, kamar tidurnya seperti membeku dalam waktu,” lanjutnya. “Kekerasan senjata api kini menjadi penyebab kematian nomor satu pada anak-anak dan remaja. Kami percaya bahwa jika dunia dapat melihat kamar tidur mereka yang kosong, Amerika akan menjadi negara yang berbeda.”
Film dokumenter terbaik malam itu, Mr Nobody Against Putin, juga menghadirkan kritik keras terhadap kekuasaan dan kontrol media. Sutradaranya, David Borenstein, mengatakan:
“Kita bertindak sebagai kaki tangan ketika pemerintah membunuh orang di jalanan kota-kota besar kita. Ketika kita tidak mengatakan apa pun saat para oligarki mengambil alih media dan mengendalikan bagaimana kita memproduksinya dan mengonsumsinya. Kita semua menghadapi pilihan moral, tetapi bahkan orang yang tidak dikenal pun lebih kuat dari yang kita kira.”
Isu konflik Timur Tengah turut hadir di karpet merah. Tim film nominasi internasional The Voice of Hind Rajab mengenakan pin yang menyerukan gencatan senjata permanen dalam perang Israel–Gaza. Aktor Palestina Motaz Malhees tidak dapat hadir karena larangan perjalanan ke Amerika Serikat.
“Anda dapat memblokir paspor,” tulis Malhees. “Anda tidak dapat memblokir suara.”
Di sisi lain, para sineas Iran dari film dokumenter Cutting Through Rocks juga menyatakan solidaritas bagi rakyat Iran.
“Perubahan dimungkinkan dari dalam, bukan sebaliknya,” kata sutradara Sara Khaki. “Kami di sini untuk membela hak-hak rakyat kami.”
Kekhawatiran terhadap kecerdasan buatan juga muncul dalam beberapa segmen acara. Aktor dan komedian Will Arnett menegaskan pentingnya karya manusia dalam industri animasi.
“Malam ini, kita merayakan manusia, bukan AI,” katanya. “Animasi lebih dari sekadar perintah sederhana: ini adalah bentuk seni yang pantas dilindungi.”
Menjelang akhir monolog pembukaannya, O’Brien menutup dengan refleksi mengenai situasi global yang penuh ketidakpastian.
“Semua orang yang menonton saat ini, di seluruh dunia, sangat menyadari bahwa ini adalah masa-masa yang sangat kacau dan menakutkan,” katanya.
“Pada momen-momen seperti inilah saya percaya bahwa Oscar menjadi sangat bermakna: 31 negara di enam benua terwakili malam ini, dan setiap film yang kita beri penghargaan adalah hasil karya ribuan orang yang berbicara berbagai bahasa, bekerja keras untuk menciptakan sesuatu yang indah.”