BALI – Pasangan suami istri asal Korea Selatan, Jinah Hwang (41) dan Han Soejin (43) tewas saat bermain paralayang di Pantai Tanah Barak, Desa Kutuh, Kecamatan Kuta Selatan, Badung, Bali. Kecelakaan fatal terjadi akibat kegagalan melepas harness cocoon saat melakukan pendaratan darurat di perairan.
Kepala Seksi Humas Polresta Denpasar, AKP I Ketut Sukadi, menjelaskan kronologi kejadian.
“Dua WNA Korea ditemukan dalam keadaan mengapung di atas laut yang diduga gagal melakukan pendaratan darurat saat bermain paralayang,” ujarnya pada Minggu (20/7/2025).
Insiden ini bermula saat pasangan tersebut, bersama tujuh turis Korea Selatan lainnya dan seorang instruktur, beraktivitas di lokasi yang dikelola Panda Paragliding. Mereka menggunakan peralatan pribadi yang dibawa langsung dari Korea.
Peristiwa nahas terjadi setelah 10 menit mengudara di ketinggian 80 meter. Tiba-tiba, arah angin berubah, memaksa ketiga penerbang, termasuk Jinah dan Han, melakukan pendaratan darurat.
“Pada saat melakukan pendaratan di air, diduga kedua korban terlambat melaksanakan pelepasan harness cocoon (tempat duduk paralayang),” kata Sukadi.
Akibatnya, keduanya terjatuh dalam posisi tertelungkup, tertimpa harness, dan terlilit tali parasut, sehingga tidak mampu menyelamatkan diri.
Upaya penyelamatan dilakukan 15 menit setelah kecelakaan, namun tertunda karena kondisi air laut yang masih tinggi.
“Sekitar 20 menit kemudian dilakukan pertolongan oleh salah satu pilot di Panda Para Layang terhadap kedua korban,” ungkap Sukadi.
Meski segera dievakuasi ke RS Surya Husada, Nusa Dua, kedua korban dinyatakan meninggal dunia sebelum mendapat perawatan.
Jenazah Jinah Hwang dan Han Soejin dirujuk ke RS Bali Mandara untuk proses lebih lanjut.
“Bahwa jenazah kedua korban akan dilakukan kremasi di Bali dan akan dibawa abunya pulang ke Korea,” tutur Sukadi.
Insiden ini menjadi pengingat akan risiko tinggi olahraga ekstrem seperti paralayang, terutama jika kondisi cuaca tidak mendukung.
Kecelakaan ini menambah daftar insiden paralayang di Bali, yang dikenal sebagai destinasi wisata petualangan.
Pihak berwenang mengimbau operator dan peserta untuk memastikan kepatuhan pada prosedur keselamatan, termasuk pemeriksaan peralatan dan pemantauan cuaca, guna mencegah tragedi serupa di masa depan.