JAKARTA – Seorang pejabat tinggi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memperingatkan bahwa serangan pemukim Israel terhadap warga Palestina di Tepi Barat telah mencapai tingkat yang mengkhawatirkan, di tengah ekspansi permukiman ilegal yang terus berlanjut.
Wakil Koordinator Khusus PBB untuk Proses Perdamaian Timur Tengah, Ramiz Alakbarov, menyampaikan kepada Dewan Keamanan PBB pada Selasa (25/3/2026) bahwa serangan pemukim terjadi hampir setiap hari. “Serangan harian oleh pemukim meningkat, sering kali terjadi di hadapan pasukan Israel, dan mengakibatkan korban jiwa, kerusakan properti, serta pengungsian di komunitas Palestina di seluruh Tepi Barat,” ujarnya, dilansir dari Anadolu.
Dalam laporan periode 3 Desember 2025 hingga 13 Maret 2026, Alakbarov menyebut otoritas Israel telah memajukan atau menyetujui pembangunan lebih dari 6.000 unit permukiman di Tepi Barat, termasuk 3.160 unit di Area C dan 2.850 unit di Yerusalem Timur. Ia menegaskan ekspansi permukiman memicu ketegangan, menghambat akses warga Palestina ke tanah mereka, serta mengancam prospek negara Palestina yang merdeka.
Alakbarov juga menyoroti pola penggusuran, pembongkaran bangunan, serta pembatasan pergerakan warga Palestina. Ia menilai praktik tersebut melanggar hak asasi manusia dan meningkatkan risiko pemindahan paksa. Selain itu, ia mengungkapkan kekhawatiran atas penahanan warga Palestina, termasuk anak-anak, banyak di antaranya ditahan tanpa dakwaan melalui mekanisme administratif.
Terkait Gaza, Alakbarov menyebut gencatan senjata masih rapuh, dengan serangan udara dan aksi militer Israel yang terus berlangsung. Sekitar 1,4 juta orang masih mengungsi di lebih dari 1.200 lokasi yang padat dan tidak aman, sementara bantuan kemanusiaan serta pasokan bahan bakar masih terbatas.
Ia menutup dengan mendesak Israel segera menghentikan penahanan pendapatan pajak Palestina, yang dinilai sebagai langkah ekonomi bersifat menghukum dan berpotensi melemahkan institusi Palestina.