RIYADH, ARAB SAUDI – Seorang pejabat senior Arab Saudi menyuarakan ketidakpuasannya terhadap kebijakan Amerika Serikat yang dinilai mengurangi dukungan keamanan di kawasan Teluk, di tengah ketegangan regional yang kian memanas.
Kritik ini mencuat setelah sejumlah media global melaporkan bahwa Washington telah merelokasi sebagian aset pertahanan rudalnya dari kawasan Teluk untuk memperkuat pertahanan Israel dalam menghadapi ancaman dari Iran.
Pejabat tersebut menegaskan bahwa Kerajaan Arab Saudi dan negara-negara Teluk lainnya telah menyediakan fasilitas militer strategis bagi AS sebagai fondasi kerja sama keamanan bersama. Namun, ia mempertanyakan konsistensi komitmen Washington setelah keputusan relokasi tersebut.
“Kami menjadi tuan rumah instalasi penting, tetapi ketika ancaman meningkat, perlindungan justru diprioritaskan ke tempat lain,” ujarnya, seperti dikutip News18.
Departemen Pertahanan AS hingga kini belum memberikan konfirmasi resmi terkait rincian pemindahan aset tersebut.
Para analis keamanan kawasan menilai langkah ini mencerminkan pergeseran prioritas AS yang semakin condong melindungi Israel di tengah konflik yang memanas dengan Iran.
Seorang pakar hubungan internasional dari Gulf Research Center di Jeddah menyoroti adanya perbedaan persepsi ancaman antara AS dan mitra Teluknya. Ia menjelaskan bahwa negara-negara Teluk memandang Iran sebagai risiko langsung terhadap keamanan domestik dan aset vital, termasuk infrastruktur energi.
Di sisi lain, AS dinilai lebih fleksibel dalam menyesuaikan strategi berdasarkan dinamika konflik global yang lebih luas.
Sejumlah ahli juga menyoroti risiko ketergantungan berlebihan negara-negara Teluk terhadap perlindungan eksternal, khususnya dari Washington. Kondisi ini dinilai mendorong kebutuhan untuk mempercepat pengembangan kapabilitas pertahanan nasional serta meninjau kembali kerangka aliansi jangka panjang dengan Barat.
Al Jazeera menekankan bahwa anggota Dewan Kerja Sama Teluk (GCC), termasuk Arab Saudi, telah lama mengandalkan jaminan keamanan AS demi menjaga stabilitas kawasan. Para pengamat berpendapat bahwa perubahan fokus global Washington—termasuk ke Asia serta peningkatan dukungan terhadap Israel—seharusnya menjadi peringatan untuk melakukan diversifikasi strategi pertahanan.
Harian Al-Akhbar, yang kerap mengkritik kebijakan AS di Timur Tengah, menyebut pendekatan keamanan Saudi terlalu bergantung pada pihak luar. Opini di media tersebut menilai insiden seperti serangan terhadap kilang minyak dan ketegangan Iran–Israel mengungkap kerentanan ketika kendali pertahanan berada di tangan asing.
Sementara itu, Asharq Al-Awsat, surat kabar Saudi yang berbasis di London, mengambil nada lebih moderat. Media tersebut menekankan pentingnya memperluas kemitraan internasional serta memperkuat kapasitas pertahanan internal negara-negara Teluk, seiring bergesernya era jaminan keamanan mutlak dari AS menuju realitas geopolitik yang lebih kompleks.