KARAWANG – Pelatihan Tactical Combat Casualty Care (TCCC) yang selama ini diterapkan di lingkungan militer dinilai dapat menjadi langkah preventif penting bagi jurnalis yang bertugas di daerah konflik. Dokter Militer Melatpur Kostrad, Kapten Ckm dr. Jeffri Ginting, menyebut adaptasi TCCC berpotensi menurunkan risiko kematian akibat cedera tak terduga di lapangan.
Dr. Jeffri menekankan, dalam situasi konflik atau kerusuhan bersenjata, akses terhadap fasilitas kesehatan sering kali sangat terbatas. “Dalam kondisi tersebut, nasib korban sangat bergantung pada pihak pertama yang memberikan pertolongan, baik tenaga medis, prajurit nonmedis, maupun pihak lain yang berada paling dekat dengan lokasi kejadian,” ujarnya.
Ia menilai, kondisi tersebut kerap dihadapi jurnalis saat meliput konflik di wilayah rawan seperti Aceh dan Maluku. Dengan pelatihan berbasis TCCC, jurnalis diharapkan mampu melakukan pertolongan pertama dasar tanpa mengganggu prinsip keselamatan dan objektivitas liputan.

TCCC sendiri menitikberatkan pada penanganan cedera yang paling sering menyebabkan kematian yang sebenarnya dapat dicegah. “TCCC menekankan penanganan perdarahan masif, gangguan jalan napas, trauma pernapasan, serta cedera kepala yang disertai hipotermia,” jelas dr. Jeffri.
Ia menjabarkan, protokol TCCC dimulai dari fase Care Under Fire, yakni pertolongan cepat di bawah ancaman, dilanjutkan Tactical Field Care dengan metode MARCH yang terstruktur. “Respiration berfokus pada penanganan gangguan pernapasan seperti tension pneumothorax dan luka dada terbuka, sedangkan Circulation untuk mencegah syok melalui pemberian cairan,” tambahnya.