Rekaman video mengerikan dari sejumlah kamar mayat di Iran beredar luas dan memperlihatkan ratusan jenazah menunggu proses identifikasi, memunculkan gambaran suram tentang skala penindasan terhadap demonstran. Tragedi ini terjadi di tengah pemadaman komunikasi nasional yang telah memasuki hari keenam, membuat jumlah korban jiwa masih menjadi perdebatan.
Video yang telah diverifikasi oleh berbagai media internasional menunjukkan Pusat Kedokteran Forensik Kahrizak di selatan Teheran dipenuhi jenazah setelah bentrokan berhari-hari antara pengunjuk rasa dan pasukan keamanan.
Kantong-kantong jenazah hitam terlihat berjajar di dalam gudang hingga meluber ke halaman fasilitas, sementara keluarga korban tampak putus asa mencari anggota keluarga mereka di antara para korban.
Sejumlah saksi mata yang mendatangi Kahrizak mengatakan kepada Iran International bahwa mereka melihat lebih dari 400 jenazah di lokasi tersebut. Verifikasi CBS News terhadap salah satu video menunjukkan setidaknya 366 jenazah, dengan kemungkinan jumlah sebenarnya melampaui 400 orang. Banyak korban terlihat mengalami luka tembak dan cedera serius akibat serpihan peluru.
Sebuah monitor di pusat forensik menampilkan foto-foto korban bernomor. Salah satu gambar yang terekam kamera bertuliskan “nomor 55 dari 250”, mengindikasikan proses identifikasi dilakukan secara bertahap karena jumlah jenazah yang sangat besar.
Seorang saksi menggambarkan situasi tersebut kepada Le Monde sebagai pemandangan yang “tidak manusiawi”, dengan ribuan jenazah ditumpuk seperti karung. Dalam pesan suara yang beredar, seorang kerabat korban mengungkapkan bahwa puluhan jenazah dikumpulkan dari berbagai rumah sakit dan dipindahkan ke Kahrizak setiap harinya.
Kelompok oposisi Dewan Nasional Perlawanan Iran melaporkan adanya dugaan pemerasan terhadap keluarga korban, di mana pihak berwenang disebut meminta hingga 700 juta toman (sekitar US$10.000) agar jenazah dapat diserahkan kepada keluarga.
Tekanan serupa juga dialami rumah sakit. Seorang tenaga medis mengatakan kepada BBC Persian bahwa sekitar 40 jenazah tiba di satu rumah sakit di Teheran hanya dalam satu malam—jumlah yang jauh melampaui kapasitas kamar mayat.
Jumlah Korban Masih Diperdebatkan
Hingga kini, jumlah korban jiwa belum dapat dipastikan akibat pemadaman internet hampir total yang diberlakukan sejak 8 Januari. Organisasi Iran Human Rights mengonfirmasi 734 kematian, namun memperingatkan angka sebenarnya “kemungkinan mencapai ribuan”.
Pemerintah Inggris melalui pernyataan Menteri Luar Negeri menyebut estimasi korban bisa mencapai sekitar 2.000 orang, dengan kemungkinan jumlah tersebut masih bertambah. Seorang pejabat Iran yang berbicara kepada Reuters juga menyebut angka serupa, namun menyalahkan kelompok yang mereka sebut sebagai “teroris”.
Sebaliknya, Iran International melaporkan angka yang jauh lebih tinggi, dengan klaim lebih dari 12.000 demonstran tewas hanya dalam dua hari, mengutip sumber yang dekat dengan Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran dan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC).
Respons Internasional Menguat
Presiden Amerika Serikat Donald Trump menanggapi krisis ini dengan membatalkan pertemuan dengan pejabat Iran. Melalui platform Truth Social, Trump menyerukan rakyat Iran untuk terus berunjuk rasa dan menyatakan bahwa “bantuan sedang dalam perjalanan”, meski tidak merinci bentuk dukungan yang dimaksud.
Sementara itu, Kanselir Jerman Friedrich Merz melontarkan kritik keras. Ia menyatakan bahwa rezim yang hanya mampu bertahan melalui kekerasan sejatinya telah kehilangan legitimasi. “Ketika kekuasaan hanya dipertahankan dengan darah, itu tanda akhir sudah dekat,” ujarnya dalam kunjungan ke India.