JAKARTA – Kantor Media Pemerintah Gaza pada Kamis (12/2/2026) waktu setempat menyerukan kepada Komite Nasional untuk Administrasi Gaza agar segera memasuki wilayah tersebut dan mulai mejalankan tugasnya. Lembaga pemerintah sera para pegawai disebut siap sepenuhnya untuk bekerja sama.
“Sehubungan dengan perkembangan politik dan administratif yang sedang berlangsung, serta demi memastikan kelancaran kerja institusional dan keberlanjutan layanan-layanan penting, kami kembali menyambut Komite Nasional untuk Administrasi Gaza dan menekankan pentingnya kehadiran mendesak komite tersebut untuk mengambil alih tugas dan tanggung jawab nasionalnya,” bunyi pernyataan itu, dilansir dari Anadolu, Jumat (13/2/2026).
Kantor tersebut menegaskan kesiapan penuh untuk mentransfer kewenangan yang relevan dalam kerangka profesional dan hukum, demi melindungi hak warga dan pegawai serta memastikan layanan publik tetap berjalan dengan efisiensi dan transparansi.
Penekanan pada Persatuan Nasional
Seluruh lembaga dan departemen pemerintah di Gaza disebut siap bekerja sama dengan komite untuk meningkatkan layanan, meringankan penderitaan warga, serta memperkuat stabilitas administratif. Pernyataan itu juga menegaskan pentingnya kesatuan tanah Palestina dan kohesi internal sebagai prioritas nasional pada tahap sensitif ini.
Seruan ini muncul di tengah kenyataan bahwa komite belum mulai beroperasi dari dalam Gaza. Sejak dibentuk pertengahan Januari, komite memulai pekerjaannya dari Kairo, Mesir. Masuknya anggota komite ke Gaza masih memerlukan koordinasi keamanan melalui perlintasan yang dikendalikan Israel.
Latar Belakang Konflik
Perjanjian gencatan senjata pada 10 Oktober 2025 mengakhiri perang dua tahun yang dimulai pada 8 Oktober 2023. Otoritas Palestina menyebut konflik tersebut menewaskan lebih dari 72.000 warga, melukai lebih dari 171.000 orang, serta menghancurkan 90 persen infrastruktur sipil. PBB memperkirakan biaya rekonstruksi mencapai 70 miliar dolar AS.
Sejak gencatan senjata, Kementerian Kesehatan Gaza mencatat sedikitnya 591 warga Palestina tewas dan lebih dari 1.578 lainnya terluka akibat serangan Israel.
