Penantian panjang selama 18 tahun akhirnya berakhir dengan air mata bahagia. Norida Akmal Ayob (45), seorang wanita asal Malaysia yang sempat “hilang” dalam jeratan kemiskinan di Lombok, Indonesia, akhirnya berhasil dipulangkan ke Tanah Air pada Minggu (15/2/2026).
Mimpi yang Berubah Menjadi Nestapa
Kisah pilu Norida bermula hampir dua dekade lalu saat ia memutuskan mengikuti suaminya, seorang warga negara Indonesia, untuk menetap di Lombok. Namun, janji manis pernikahan itu tak bertahan lama. Norida justru ditinggal suaminya yang memilih menikah lagi, meninggalkannya dalam kondisi tanpa kepastian dan serba kekurangan.
Demi menyambung hidup kedua buah hatinya, Norida terpaksa melakoni pekerjaan kasar sebagai petugas kebersihan atau tukang sapu.
“Pernikahan Norida tidak berlangsung lama. Ia akhirnya hidup sendirian dalam kemiskinan setelah berpisah dari suaminya,” ungkap Wakil Menteri Dalam Negeri Malaysia, Shamsul Anuar Nasarah, melalui unggahan resminya.
Anak-Anak yang Putus Sekolah
Kondisi Norida semakin menyedihkan karena anak-anaknya tidak mampu melanjutkan pendidikan. Putri sulungnya, Nur Fateen Akmadiana, lahir di Malaysia dan memegang status warga negara Malaysia. Sementara putranya, Muhamad Sabani Daniel, lahir di Indonesia.
Titik terang muncul saat keluarga Norida di Kampung Bukit Sapi, Lenggong, menemui Shamsul Anuar untuk melaporkan kondisi memprihatinkan Norida yang seolah terlupakan di negeri orang.
Misi Penjemputan Antarnegara
Mendengar kabar tersebut, pemerintah Malaysia bergerak cepat. Sebuah misi repatriasi dibentuk melalui kerja sama antara Wisma Putra, Kedutaan Besar Malaysia di Jakarta, Departemen Imigrasi, dan otoritas Indonesia.
“Saya mengirimkan tim khusus langsung ke Lombok untuk menjemput mereka. Alhamdulillah, saat ini mereka sudah kembali ke Tanah Air dengan selamat,” tambah Shamsul yang juga merupakan Anggota Parlemen Lenggong.
Kini, Norida dan anak-anaknya dapat memulai hidup baru di kampung halaman, meninggalkan memori pahit belasan tahun di bawah terik matahari Lombok yang sempat menjadi saksi bisu perjuangannya bertahan hidup.