Lebih dari satu bulan setelah banjir bandang melanda Sumatra pada akhir November 2025, proses pemulihan terus bergulir. Pemerintah bersama sektor swasta masih menyalurkan bantuan bagi ribuan keluarga terdampak, sementara pemulihan infrastruktur vital seperti listrik dan telekomunikasi di sebagian besar wilayah telah mendekati tahap akhir.
Menteri Sosial Saifullah Yusuf menyampaikan dalam Rapat Koordinasi Satgas Pemulihan Pascabencana pada Selasa (30/12/2025) bahwa pemerintah mengalokasikan Rp3 juta per kepala keluarga untuk pembelian perabotan rumah tangga, serta Rp5 juta untuk mendukung pemulihan ekonomi keluarga.
Selain itu, keluarga korban meninggal dunia akan menerima santunan sebesar Rp15 juta, sementara korban luka berat memperoleh bantuan Rp5 juta.
Pemerintah juga menyiapkan bantuan tunai tambahan berupa uang lauk pauk sebesar Rp450 ribu per orang per bulan selama tiga bulan bagi warga yang tinggal di hunian sementara. Sementara itu, bagi 16.264 kepala keluarga yang memilih tidak menempati hunian sementara, pemerintah menyalurkan Dana Tunggu Hunian sebesar Rp600 ribu per bulan.
Dari sisi pembiayaan negara, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan bahwa pemerintah telah mencairkan Dana Kemasyarakatan Presiden senilai Rp268 miliar, serta menyiapkan dana siap pakai Rp1,51 triliun melalui Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Untuk kebutuhan rekonstruksi jangka panjang, pemerintah mengalokasikan Rp51 triliun dari APBN 2026.
Sektor Swasta Turut Bergerak
Kepedulian juga datang dari sektor swasta. PT Gonusa Prima Distribusi menyalurkan donasi Rp1,5 miliar dalam bentuk produk konsumsi untuk wilayah Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.
Sementara itu, ISMAYA Group menyalurkan Rp300 juta melalui platform Kitabisa, dan PT Resource Alam Indonesia (KKGI) menyerahkan Rp300 juta kepada Palang Merah Indonesia.
Grup Merdeka turut berkontribusi dengan donasi Rp977 juta melalui Badan Amil Zakat Nasional, yang digunakan untuk penyediaan logistik dasar, layanan kesehatan, serta dukungan psikososial bagi korban bencana.
Infrastruktur Pulih hingga 95 Persen
Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid melaporkan bahwa pemulihan jaringan telekomunikasi di wilayah terdampak telah mencapai lebih dari 95 persen. Namun, di sejumlah daerah seperti Bener Meriah, Aceh Tamiang, dan Gayo Lues, jaringan masih bergantung pada pasokan listrik dan baru pulih di kisaran 60–80 persen.
Kementerian Komunikasi dan Digital juga menyalurkan 118 tangki air bersih berkapasitas 8.000 liter ke wilayah yang sumber airnya tercemar banjir. Distribusi ini dilakukan melalui kolaborasi dengan Telkom, Telkomsel, Indosat Ooredoo Hutchison, XL Smart, serta Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia.
Bupati Aceh Tamiang, Armia Fahmi, mengonfirmasi bahwa listrik dan jaringan komunikasi di wilayahnya telah kembali berfungsi. Meski demikian, 216 desa masih membutuhkan alat berat untuk membersihkan lumpur sisa banjir. Aktivitas ekonomi mulai menggeliat, pasar-pasar kecil kembali beroperasi, dan jalur logistik Medan–Banda Aceh berangsur normal.
Kondisi paling memprihatinkan terjadi di Desa Sekumur, yang hampir lenyap akibat banjir bandang 26 November 2025. Dari ratusan bangunan, hanya 13 rumah dan satu masjid yang masih berdiri, memaksa sekitar 300 kepala keluarga mengungsi. Pemerintah daerah kini tengah menyusun langkah rehabilitasi, termasuk opsi relokasi warga ke kawasan yang lebih aman.