JAKARTA – Pemerintah hingga kini belum membuka seleksi calon aparatur sipil negara (CASN) untuk tahun 2026.
Hal ini terjadi karena masih melakukan kalkulasi menyeluruh terhadap kemampuan fiskal negara serta kebutuhan riil di berbagai sektor strategis.
Langkah penundaan ini menjadi bagian dari strategi kehati-hatian pemerintah dalam menjaga keseimbangan anggaran sekaligus memastikan perekrutan ASN benar-benar tepat sasaran dan sesuai prioritas nasional.
Fokus utama pemerintah saat ini tertuju pada sektor pendidikan dan kesehatan yang dinilai masih mengalami kekurangan tenaga kerja signifikan di berbagai daerah.
Dalam pemetaan sementara, dari sekitar 10.000 puskesmas di seluruh Indonesia, tercatat sekitar 4.000 fasilitas layanan kesehatan masih kekurangan tenaga medis, termasuk dokter umum dan dokter gigi.
Kondisi tersebut menjadi perhatian serius pemerintah karena berkaitan langsung dengan kualitas pelayanan publik di sektor kesehatan dasar.
“Belum, bahwa mungkin ada prioritas-prioritas terlebih dahulu yang harus kita penuhi.”
“Karena bagaimanapun juga kita harus mempertimbangkan juga kondisi kemampuan kita secara fiskal,”kata Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi dalam keterangan pers usai rapat di Kementerian Pertahanan, Jakarta, Selasa, 17 Maret 2026.
Selain tenaga kesehatan, pemerintah juga menaruh perhatian pada kebutuhan tenaga pendidik yang masih memerlukan perencanaan ulang secara komprehensif.
“Mendikdasmen, Prof Mu’ti, kita minta mendesain ulang, meng-exercise ulang berapa kebutuhan tenaga pendidik. Komposisinya, distribusinya, kemudian bidang atau mata pelajaran yang harus kita, kita apa, hasilkan,”ujarnya.
Proses penyusunan kebutuhan ASN saat ini masih berada pada tahap perumusan lintas kementerian, di mana masing-masing instansi telah menyampaikan usulan kebutuhan pegawai sesuai bidangnya.
Namun demikian, pemerintah belum dapat merilis angka pasti terkait jumlah formasi CASN 2026 karena pembahasan masih bersifat dinamis dan berkembang.
“Secara umum hampir tadi semua menteri yang hadir sudah menyampaikan kebutuhannya.”
“Kami belum bisa menyampaikan angka secara detail karena tadi diskusinya kemudian berkembang ya,”ujarnya menjelaskan.
Di sisi lain, Kementerian PANRB juga telah menginstruksikan seluruh kementerian, lembaga, serta pemerintah daerah untuk melakukan pemetaan kebutuhan dan kondisi ASN yang ada saat ini.
Langkah ini bertujuan untuk menyelaraskan data kebutuhan pegawai dengan kondisi riil di lapangan sehingga kebijakan rekrutmen nantinya lebih akurat dan efisien.
“Sebenarnya secara terpisah kita di pusat juga melakukan pemetaan terhadap seluruh ASN yang sudah existing gitu.”
“Jadi ini sedang dicari titik temunya nanti kalau bicaranya masalah jumlah,”katanya menegaskan.
Dengan pendekatan berbasis data dan kehati-hatian fiskal, pemerintah berupaya memastikan rekrutmen ASN 2026 tidak hanya memenuhi kebutuhan administrasi, tetapi juga memperkuat pelayanan publik secara menyeluruh.***