JAKARTA – Era pemerintahan Presiden Prabowo Subianto menandai langkah agresif dalam percepatan transformasi digital nasional. Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) menetapkan target ambisius agar kecepatan internet rata-rata nasional, baik mobile broadband maupun fixed broadband, mencapai 100 Mbps pada akhir 2029.
Target tersebut tertuang dalam Rencana Strategis (Renstra) Komdigi periode 2025–2029. Pelaksanaannya dipimpin oleh Direktorat Jenderal Infrastruktur Digital dengan fokus pada peningkatan bertahap setiap tahun guna memastikan kualitas koneksi yang lebih stabil dan merata.
Percepatan Koneksi Internet di Indonesia
Untuk mobile broadband, kecepatan rata-rata nasional pada 2024 tercatat sebesar 47,02 Mbps. Komdigi merencanakan peningkatan progresif sebagai berikut:
- 50 Mbps pada 2025
- 60 Mbps pada 2026
- 75 Mbps pada 2027
- 90 Mbps pada 2028
- 100 Mbps pada 2029
Peningkatan ini tidak hanya mengandalkan perluasan cakupan jaringan, tetapi juga optimalisasi jaringan 4G yang sudah ada, peluncuran 5G di wilayah prioritas, serta peningkatan quality of experience (QoE) bagi pengguna.
Sementara itu, fixed broadband yang pada 2024 memiliki kecepatan rata-rata 51,30 Mbps ditargetkan mengikuti trajektori sebagai berikut:
- 37 Mbps pada 2025
- 45 Mbps pada 2026
- 64 Mbps pada 2027
- 83 Mbps pada 2028
- 100 Mbps pada 2029
Meski menunjukkan kemajuan, posisi Indonesia dalam kecepatan internet global masih menjadi pekerjaan rumah. Laporan Speedtest Global Index dari Ookla untuk November 2025 mencatat kecepatan mobile broadband Indonesia mencapai 50,77 Mbps, naik enam peringkat ke posisi 73 dari 103 negara.
Di tingkat ASEAN, Indonesia telah melampaui Kamboja dan Laos, namun masih tertinggal dari sejumlah negara tetangga lainnya.
Sebaliknya, untuk fixed broadband, peringkat Indonesia justru turun empat posisi menjadi peringkat ke-119 dari 154 negara. Di kawasan Asia Tenggara, Indonesia hanya unggul atas Myanmar.
Langkah strategis Komdigi ini diharapkan mampu mengejar ketertinggalan, mendorong pertumbuhan ekonomi digital, serta meningkatkan daya saing Indonesia di era konektivitas global.