GAZA – Pemerintahan Donald Trump berencana untuk “mengambil alih” operasi bantuan kemanusiaan di Gaza, dengan alasan bahwa Israel tidak menangani masalah tersebut dengan cukup memadai, menurut sumber pejabat AS dan Israel yang dikutip oleh Axios pada Selasa (5/8/2025).
Utusan Amerika Serikat, Steve Witkoff, dan Presiden Trump membahas peran yang lebih besar bagi AS dalam penanganan bantuan Gaza pada pertemuan Gedung Putih, Senin malam, setelah kunjungan Witkoff ke Gaza pekan lalu. Dalam kunjungan tersebut, Witkoff menghabiskan lebih dari lima jam untuk menilai kondisi di lapangan, menurut Departemen Luar Negeri AS.
Seorang pejabat AS mengatakan bahwa meskipun Trump “tidak senang” dengan keputusan ini, ia merasa “tampaknya tidak ada cara lain” untuk menangani krisis tersebut.
Keputusan ini diambil karena pemerintahan Trump meyakini Israel belum menangani situasi kemanusiaan dengan efektif. Seorang pejabat AS mengungkapkan, “Masalah kelaparan di Gaza semakin parah. Donald Trump tidak menyukainya. Dia tidak ingin bayi-bayi kelaparan.”
Untuk mendukung operasional bantuan tersebut, negara-negara Teluk seperti Qatar diharapkan menyumbang dana, sementara Yordania dan Mesir “kemungkinan akan berpartisipasi,” kata sumber yang sama.
Seorang pejabat Israel menyatakan bahwa Tel Aviv mendukung langkah perluasan peran AS dalam operasi bantuan kemanusiaan tersebut. Gaza Humanitarian Foundation, sebuah organisasi yang kontroversial, telah mengelola distribusi bantuan di Gaza sejak didirikan pada Februari, dengan dukungan AS. Namun, sejak yayasan ini beroperasi pada akhir Mei, lebih dari 1.300 orang telah tewas saat berusaha mengakses bantuan, seperti dilansir dari Anadolu.
Kondisi semakin memprihatinkan dengan lebih dari 188 orang, termasuk 94 anak-anak, meninggal akibat kelaparan sejak Oktober 2023. Secara keseluruhan, lebih dari 61.000 orang tewas dalam perang yang terus berlangsung antara Israel dan Gaza.