JAKARTA – Pemerintah Kota Administrasi Jakarta Barat bergerak cepat menangani insiden tanah longsor di Jalan H. Jafar, RT 006/RW 01, Kelurahan Kembangan Selatan, Kecamatan Kembangan. Penanganan dilakukan dengan membangun struktur penahan tanah berupa bronjong dari kawat anyaman.
Wali Kota Jakarta Barat, Iin Mutmainnah, menegaskan bahwa langkah tersebut bersifat sementara untuk menghindari risiko lanjutan.
“Kami tangani sementara dengan bronjongan untuk mencegah terjadinya erosi atau longsor susulan,” kata Iin Mutmainnah di Jakarta, Minggu (4/1/2026).
Kepala Suku Dinas Sumber Daya Air Jakarta Barat, Purwanti Suryandari, mengungkapkan bahwa pihaknya mengerahkan 50 personel gabungan dari SDA dan Penanganan Prasarana dan Sarana Umum Kecamatan Kembangan untuk membangun bronjong di lokasi kejadian.
“Area yang longsor seluas kurang lebih 20 hingga 30 meter persegi. Saat ini kami tangani sementara dengan menggunakan bronjong,” ujar Purwanti.
Ia menjelaskan, penggunaan bronjong berfungsi mencegah erosi dan longsor sekaligus menstabilkan tanah di tepi sungai atau kali. Struktur bronjong dinilai kuat dan fleksibel dalam menahan pergeseran tanah.
Sementara itu, Camat Kembangan, Joko Suparno, menyatakan telah berkoordinasi secara intensif dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah DKI Jakarta untuk memasang garis pembatas di area longsor guna melindungi rumah warga sekitar. Koordinasi juga dilakukan dengan RT dan RW setempat agar warga tidak melintas di zona berbahaya.
“Selain itu, dilakukan deteksi dini dan antisipasi kebencanaan dengan berkoordinasi bersama BPBD terkait informasi ketinggian air sungai serta curah hujan,” jelas Joko.
Insiden longsor ini dipicu hujan deras pada Jumat (2/1/2026) sekitar pukul 19 WIB. Kepala Pusat Data dan Informasi BPBD DKI Jakarta, Mohamad Yohan, menjelaskan bahwa erosi akibat aliran Kali Angke menjadi penyebab utama.
“Terjadi erosi tanah di bibir sungai aliran Angke Hulu,” kata Yohan saat dikonfirmasi di Jakarta, Jumat malam.
Ia memastikan tidak ada korban jiwa dalam kejadian tersebut, meski longsor terjadi tepat di depan rumah warga dan menyebabkan satu tiang listrik roboh.
Di tempat terpisah, tragedi longsor juga terjadi di Jatinangor, Kabupaten Sumedang, pada Jumat (2/1/2026). Longsor akibat ambruknya tembok penahan tebing pada proyek konstruksi ilegal menewaskan empat pekerja.
Bupati Sumedang, Dony Ahmad Munir, yang meninjau langsung lokasi kejadian, menegaskan bahwa bencana tersebut lebih disebabkan oleh aktivitas pembangunan daripada faktor cuaca.
“Berdasarkan pengecekan yang telah saya lakukan, longsor ini bukan semata-mata akibat hujan, melainkan dampak dari aktivitas pembangunan tembok penahan tebing. Saya memastikan kegiatan pembangunan ini tidak memiliki izin,” ujarnya.
Pemerintah Kabupaten Sumedang akan menindak tegas kasus tersebut, termasuk menghentikan seluruh aktivitas di lokasi proyek.
“Karena tidak berizin, maka kegiatan tersebut akan ditutup dan ditindaklanjuti sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku,” tegas Dony.
Dari delapan pekerja yang berada di lokasi, empat orang meninggal dunia, sementara empat lainnya selamat, dengan dua di antaranya mengalami luka-luka. Polisi masih menyelidiki kemungkinan adanya unsur kelalaian dalam kecelakaan kerja tersebut.