JABAR – Ledakan hebat terjadi saat proses pemusnahan amunisi usang milik TNI di Desa Sagara, Kecamatan Cibalong, Kabupaten Garut. Insiden ini merenggut 11 nyawa, termasuk dua perwira tinggi TNI berpangkat Mayor dan Kolonel.
Kronologi Ledakan yang Mengguncang Garut
Peristiwa bermula saat TNI menggelar kegiatan rutin untuk memusnahkan amunisi kedaluwarsa yang sudah tidak layak pakai. Namun, aktivitas yang seharusnya terkendali ini berubah menjadi bencana.
Ledakan terjadi secara tiba-tiba, menghasilkan dentuman keras yang terdengar hingga radius jauh. Api dan asap membumbung tinggi, menciptakan kepanikan di sekitar lokasi.
Kepala Staf TNI Angkatan Darat (KSAD) Maruli Simanjuntak, insiden ini sedang diselidiki secara mendalam untuk mengungkap penyebab pasti.
“Benar terjadi kejadian tersebut. Kejadiannya sedang diinvestigasi,” ujarnya.
Sementara itu. Kabid Humas Polda Jawa Barat, Kombes Hendra Rochmawan, juga membenarkan peristiwa ini. “Benar kejadian tersebut dan jumlah korban yang disampaikan oleh Pasi Intel. Keterangan masih dari Pasi Intel Kodim Garut dan saat ini Kares (Kapolres) Garut menuju lokasi,” katanya.
Korban dan Dampak yang Memilukan
Sebanyak 11 orang dinyatakan tewas dalam tragedi ini, termasuk dua anggota TNI berpangkat tinggi, yaitu seorang Mayor dan seorang Kolonel.
Identitas lengkap para korban belum dirilis secara resmi, namun kehilangan ini menjadi pukulan berat bagi TNI dan warga sekitar. Selain korban jiwa, ledakan ini juga menyebabkan kerusakan di sekitar lokasi, meskipun laporan awal belum menyebutkan secara rinci dampak material.
Pihak kepolisian segera turun ke tempat kejadian perkara (TKP) untuk melakukan olah TKP dan mengamankan area. Proses investigasi melibatkan tim gabungan dari TNI dan Polri guna memastikan penyebab ledakan dapat terungkap secepatnya.
Mengapa Pemusnahan Amunisi Berujung Petaka?
Pemusnahan amunisi usang merupakan prosedur standar untuk mencegah risiko kecelakaan akibat penyimpanan bahan peledak yang sudah tidak stabil. Namun, insiden ini menimbulkan pertanyaan besar tentang prosedur keamanan yang diterapkan. Apakah ada kelalaian manusia, kegagalan teknis, atau faktor lain yang memicu ledakan? Hingga kini, penyebab pasti masih menjadi misteri yang menunggu hasil investigasi.
Respons Cepat dan Langkah Penanganan
Pasca-ledakan, aparat keamanan bergerak cepat untuk mengendalikan situasi. Tim Jihandak (Penjinak Bahan Peledak) TNI dikerahkan untuk memastikan tidak ada amunisi aktif yang tersisa di lokasi. Sementara itu, warga sekitar diminta untuk tetap tenang dan menjauh dari area kejadian demi keamanan.
Polda Jawa Barat juga memastikan bahwa proses evakuasi korban dilakukan dengan segera. Rumah sakit terdekat disiagakan untuk menangani kemungkinan adanya korban luka, meskipun laporan awal belum menyebutkan jumlah pasti korban selamat atau luka.
Insiden ini bukanlah yang pertama kali terjadi di Indonesia. Baru-baru ini, sebuah truk TNI yang mengangkut amunisi terbakar dan meledak di Tol Gempol-Pandaan, Pasuruan, pada 5 Mei 2025, menewaskan satu anggota TNI dan melukai satu lainnya. Kejadian tersebut juga memicu investigasi intensif untuk memahami penyebab kebakaran dan ledakan amunisi.
Peristiwa-peristiwa ini menjadi pengingat akan risiko tinggi yang menyertai penanganan bahan peledak. Standar operasional prosedur (SOP) yang ketat dan pelatihan berkala menjadi krusial untuk mencegah tragedi serupa terulang di masa depan.
Dukungan dan Harapan ke Depan
Tragedi di Garut ini menyisakan luka mendalam, baik bagi keluarga korban maupun masyarakat luas. Publik kini menantikan hasil investigasi resmi untuk memastikan keadilan bagi para korban dan mencegah insiden serupa. TNI dan Polri diharapkan dapat memberikan transparansi dalam penanganan kasus ini, sekaligus memperbaiki sistem keamanan dalam pengelolaan amunisi.