Sebuah lubang longsoran raksasa di Kampung Bah, Kecamatan Ketol, Kabupaten Aceh Tengah, kini hanya berjarak sekitar lima meter dari badan jalan lintas Blang Mancung–Simpang Balik. Dengan kedalaman diperkirakan mencapai 100 meter, longsoran ini terus meluas dan mengancam jalur strategis yang menghubungkan Aceh Tengah dengan Kabupaten Bener Meriah.
Fenomena tersebut sejatinya bukan kejadian baru. Kepala BPBD Aceh Tengah, Andalika, menjelaskan bahwa retakan kecil di lokasi itu sudah terpantau sejak awal 2000-an dan mulai bergerak aktif pada 2004. Bahkan pada 2006, longsoran ini sempat memutus total akses jalan antarwilayah.
Bukan Sinkhole, Melainkan Longsoran Lambat
BPBD Aceh Tengah menegaskan bahwa lubang tersebut bukan sinkhole klasik yang terjadi secara tiba-tiba.
“Ini adalah pergerakan tanah secara perlahan atau slow moving landslide,” ujar Andalika, Kamis (15/1/2026).
Data Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Aceh menunjukkan, hingga 2025 luas area longsoran telah melampaui 27.000 meter persegi dan terus bergerak mendekati badan jalan. Pemantauan dan pengukuran luasan ini telah dilakukan secara berkala sejak 2011.
Kajian gabungan BPBD Aceh Tengah dan tim survei geofisika ESDM Aceh pada 2022 menyimpulkan bahwa longsoran terjadi pada lapisan tanah permukaan dengan zona jenuh air. Material tanahnya didominasi endapan vulkanik yang mudah menghantarkan air, sehingga sangat rentan bergerak.
Ancaman Serius bagi Transportasi dan Pertanian
Jalan Blang Mancung–Simpang Balik merupakan urat nadi transportasi warga serta jalur utama distribusi hasil pertanian di kawasan pegunungan. Andalika menegaskan, area longsoran ini telah dikategorikan sebagai zona rawan tinggi pergerakan tanah dan membutuhkan penanganan struktural maupun nonstruktural secara segera dan berkelanjutan.
Sejumlah faktor memperparah kondisi tersebut, antara lain:
-
Struktur tanah labil dari material letusan gunung api
-
Curah hujan tinggi di wilayah pegunungan
-
Kemiringan lereng yang ekstrem, mendekati 90 derajat
-
Beban lalu lintas kendaraan serta keberadaan tower listrik tegangan ekstra tinggi di sekitar lokasi
Sebagai langkah mitigasi awal, pemerintah daerah telah memasang rambu peringatan rawan longsor dan garis pembatas di sekitar lokasi. Koordinasi lintas sektor antara BPBD, Dinas PUPR, dan Dinas ESDM terus dilakukan, termasuk opsi relokasi trase jalan jika kondisi memburuk.
Sebelumnya, warga Kampung Bah Serempah juga pernah direlokasi ke Kampung Serempah Baru pada periode 2013–2014 akibat ancaman serupa.