JAKARTA – Eskalasi konflik di Timur Tengah antara AS-Israel dan Iran kini memasuki babak baru yang mengancam perekonomian global. Kekhawatiran terbesar dunia tertuju pada potensi blokade Selat Hormuz yang dapat memicu lonjakan harga minyak dan resesi.
Pengamat militer dan intelijen, Nuningtyas Nefo Handayani Kertopati (Nuning), menilai bahwa situasi terkini mencerminkan adanya dinamika baru dalam sikap politik Washington, meningkatnya risiko di Selat Hormuz, serta tantangan internal yang tengah dihadapi oleh Iran.
Perubahan Dinamika Politik AS
Nuning menjelaskan Presiden AS Donald Trump selama ini dikenal memiliki kecenderungan kebijakan luar negeri yang hati-hati terhadap keterlibatan militer langsung. Namun, situasi terbaru menunjukkan adanya perubahan sikap yang signifikan.
“Presiden Donald Trump sebagai isolasionis dan biasanya tidak suka terlibat perang langsung, kali ini nampak terprovokasi Israel menyerang Iran,” katanya melalui keterangan tertulis kepada Garuda.Tv, Minggu (1/3/2026).
Pernyataan tersebut menggambarkan adanya pergeseran situasi yang perlu dicermati secara serius oleh komunitas internasional.
Potensi Penutupan Selat Hormuz
Salah satu isu strategis yang menjadi sorotan dunia adalah potensi penutupan Selat Hormuz. Jalur ini merupakan salah satu koridor distribusi energi terpenting di dunia. Iran dilaporkan meningkatkan kesiapsiagaan militernya di kawasan tersebut.
“Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) dikerahkan untuk menutup Selat Hormuz di tengah situasi memanas di Kawasan Timur Tengah,” ucapnya.
Berdasarkan data Badan Informasi Energi AS (EIA), lebih dari 20 persen konsumsi minyak harian dunia atau sekitar 18–20 juta barel per hari melintasi Selat Hormuz. Sejumlah negara produsen minyak dan gas, termasuk anggota OPEC, sangat bergantung pada jalur ini untuk kegiatan ekspor.
“Jika nantinya selat tersebut ditutup, maka dampaknya akan terasa pada pasokan energi seperti menimbulkan kenaikan harga minyak dunia,” jelas Nuning.
Dampak terhadap Ekonomi Global
Negara-negara di Asia seperti China, India, Jepang, dan Korea Selatan merupakan pihak yang memiliki ketergantungan tinggi terhadap pasokan energi dari jalur tersebut.
“Negara di Asia seperti China, India, Jepang, dan Korea Selatan sangat bergantung pada energi yang melewati jalur ini. Dampak ekonomi sangat dikhawatirkan dunia,” tambahnya.
Kenaikan harga minyak berpotensi meningkatkan tekanan inflasi global dan mengganggu stabilitas rantai pasok internasional. Oleh karena itu, perkembangan situasi di Selat Hormuz menjadi perhatian utama banyak negara.
Tantangan Domestik Iran
Selain tekanan eksternal, Iran juga menghadapi dinamika internal. Aksi protes yang bermula pada 28 Desember 2025 akibat persoalan ekonomi berkembang menjadi tuntutan politik yang lebih luas.
“Rangkaian protes yang dimulai pada 28 Desember 2025 terkait masalah ekonomi, telah berubah menjadi seruan untuk mengakhiri kekuasaan pemimpin tertinggi Iran,” jelasnya.
Pemerintah Iran menilai aksi tersebut dipengaruhi faktor eksternal. “Pemerintah Iran menyebut demonstrasi tersebut sebagai ‘kerusuhan’ yang didukung oleh musuh-musuh Iran,” ujarnya.
Menurut Nuning, kondisi ini turut memengaruhi stabilitas internal pemerintahan. “Pemerintahan Presiden Khamenei juga sedang menghadapi melemahnya Self Determination sebagai penguasa,” lanjutnya.
Posisi Indonesia dalam BoP
Di tengah dinamika global tersebut, keterlibatan Indonesia dalam Board of Peace (BoP) dipandang sebagai bagian dari peran aktif Indonesia dalam percaturan internasional.
BoP dilihat sebagai salah satu forum yang berupaya mendorong perubahan tata kelola global, termasuk dalam konteks penyelesaian konflik di Timur Tengah.
“Jika kita melihat BoP dalam konteks perubahan tata kelola global, utamanya upaya perdamaian dalam konflik berkepanjangan, terutama di Timur Tengah, secara historis lebih sering ditentukan oleh peran kekuatan besar dibanding institusi internasional. Oleh karenanya BoP oleh negara anggotanya dianggap mampu menjadi kekuatan besar tersebut,” papar Nuning.
Keikutsertaan Indonesia dapat dimaknai sebagai bagian dari komitmen diplomasi aktif untuk mendorong stabilitas dan perdamaian. Dari sisi strategis, hal ini juga membuka ruang komunikasi yang lebih luas.
“Kalau kita lihat positifnya Presiden Prabowo bisa mendapat info lebih cepat terkait rencana Amerika dan sekutunya, contohnya bisa memberi masukan yang bisa juga membantu Palestina agar tak melulu diserang Israel,” ungkapnya.
Sementara itu, Nuning juga mengingatkan pentingnya kehati-hatian dalam setiap dinamika kebijakan internasional. “Risiko utama adalah jika BoP mengambil kebijakan yang tidak efektif atau menimbulkan residu negatif, Indonesia dapat dianggap melegitimasi kebijakan tersebut karena menjadi bagian dari mekanisme itu,” tegasnya.
Komitmen Diplomasi dan Stabilitas Global
Secara keseluruhan, eskalasi konflik AS–Israel dan Iran memiliki implikasi luas terhadap stabilitas kawasan dan ekonomi global. Dalam konteks tersebut, peran negara-negara, termasuk Indonesia, diharapkan tetap mengedepankan prinsip diplomasi, stabilitas, serta upaya penyelesaian damai.
Perkembangan situasi masih berlangsung dinamis dan memerlukan pemantauan berkelanjutan. Dunia internasional kini menaruh perhatian besar pada langkah-langkah yang akan diambil para pemangku kepentingan dalam meredakan ketegangan dan menjaga stabilitas global.