Tingkat pengangguran di Inggris meningkat menjadi 5,1 persen pada Oktober, menandai level tertinggi sejak Maret 2021. Kenaikan ini mencerminkan pelemahan pasar tenaga kerja yang kian nyata, di tengah ekspektasi pemangkasan suku bunga oleh Bank of England (BoE) dalam waktu dekat.
Berdasarkan data Office for National Statistics (ONS) yang dirilis Senin, tingkat pengangguran untuk periode tiga bulan hingga Oktober naik dari 5,0 persen pada periode sebelumnya, sejalan dengan proyeksi para ekonom. Pada saat yang sama, pertumbuhan upah tahunan—tidak termasuk bonus—melambat menjadi 4,6 persen, turun dari 4,7 persen pada September.
Jumlah pekerja dengan sistem penggajian juga menyusut. Pada November, jumlahnya turun 38.000 orang menjadi sekitar 30,3 juta, mengindikasikan perusahaan mulai menahan perekrutan. ONS mencatat tekanan paling terasa dialami oleh kelompok usia muda, seiring berkurangnya kesempatan kerja dan meningkatnya pengangguran di segmen tersebut.
“Gambaran umumnya terus menunjukkan pasar tenaga kerja yang melemah,” ujar Direktur Statistik Ekonomi ONS, Liz McKeown. Menurutnya, kombinasi penurunan jumlah pekerja bergaji dan kenaikan tingkat pengangguran menjadi sinyal jelas pendinginan ekonomi.
Data ini semakin memperkuat ekspektasi bahwa Bank of England akan memangkas suku bunga acuannya dari 4 persen menjadi 3,75 persen pada Kamis mendatang, yang akan menjadi pemotongan keempat sepanjang 2025. Seluruh ekonom yang disurvei Reuters memperkirakan pemangkasan seperempat poin tersebut akan terjadi.
Sebelumnya, Komite Kebijakan Moneter BoE memilih tipis 5-4 untuk mempertahankan suku bunga pada November. Namun, Gubernur BoE Andrew Bailey mengisyaratkan bahwa tren inflasi yang membaik dapat memengaruhi arah kebijakan moneter. Inflasi Inggris tercatat turun menjadi 3,6 persen pada Oktober, sementara ekspektasi inflasi publik juga melemah.
Tekanan ekonomi turut diperparah oleh kebijakan fiskal terbaru pemerintah Inggris. Anggaran November yang diumumkan Menteri Keuangan Rachel Reeves mencakup kenaikan pajak sebesar £26 miliar, termasuk peningkatan kontribusi Asuransi Nasional. Kalangan pengusaha menyebut ketidakpastian kebijakan tersebut sebagai faktor yang menahan ekspansi dan perekrutan tenaga kerja.
Dari sisi sektor, penurunan tenaga kerja terbesar terjadi di sektor grosir dan ritel, dengan jumlah pekerja bergaji berkurang 71.000 orang dibandingkan tahun sebelumnya. Pertumbuhan upah sektor swasta melambat menjadi 3,9 persen, terendah sejak awal 2021, sementara upah sektor publik melonjak 7,6 persen, sebagian dipicu oleh kenaikan gaji yang dimajukan.