Isu peredaran obat keras golongan G seperti Tramadol dan Hexymer di Bekasi kembali menjadi sorotan setelah insiden pengeroyokan terhadap wartawan Dimas Karfa dari media Jejakpos.id. Kejadian ini terjadi saat Dimas sedang melakukan liputan investigasi di sebuah toko yang diduga menjual obat ilegal berkedok kosmetik di wilayah Jatisampurna, Kota Bekasi.
Dua hari kemudian, Pemerintah Kota (Pemkot) Bekasi bersama DPD Forza Bekasi melakukan razia cepat, menemukan obat Hexymer dan senjata tajam (sajam) di lokasi tersebut. Insiden ini pertama kali diungkap melalui akun X @txtdrbekasi pada 6 Januari 2026, yang memposting video dan kronologi kejadian.
Menurut postingan tersebut, dugaan adanya “kekuatan besar” di balik maraknya toko obat ilegal semakin menguat, karena meski sering dikeluhkan masyarakat atas dampaknya terhadap generasi muda, toko-toko ini seolah kebal hukum. Puncaknya adalah kekerasan terhadap wartawan yang menjalankan fungsi kontrol sosial.
Kronologi Pengeroyokan Wartawan
Nasib nahas menimpa Dimas Karfa saat ia mencoba mengonfirmasi aktivitas penjualan obat keras di toko tersebut. Berdasarkan keterangan saksi, Dimas awalnya mengambil dokumentasi dan menanyakan perizinan toko. Namun, bukannya memberikan jawaban, dua penjaga toko langsung melakukan intimidasi yang berujung pada pemukulan secara brutal.
Video yang beredar menunjukkan suasana tegang di lokasi, dengan Dimas menjadi korban pengeroyokan. Kejadian ini tidak hanya melukai fisik Dimas, tapi juga dianggap sebagai serangan terhadap kebebasan pers.
Netizen banyak yang menduga adanya “setoran” ke oknum aparat, ormas, atau pihak berwenang, yang membuat toko-toko ini sulit disentuh. Salah satu komentar menyebutkan omset harian toko bisa mencapai Rp10 juta, dengan setoran bulanan ke polisi sekitar Rp7 juta. Ciri toko ilegal juga dibagikan, seperti stok barang minim tapi pembeli ramai, atau pajangan rokok yang tidak biasa.
Respons Cepat Pemkot: Razia dan Temuan Barang Bukti
Dua hari setelah kejadian, pada 8 Januari 2026, @txtdrbekasi mengupdate melalui quote tweet bahwa DPD Forza Bekasi bersama Pemkot Bekasi merespons cepat. Tim gabungan langsung mengecek lokasi di Jatisampurna. Hasil penggeledahan menemukan obat golongan G jenis Hexymer yang disembunyikan, serta satu buah sajam. Video razia menunjukkan petugas menyisir toko dan menyita barang bukti.
Langkah ini diapresiasi netizen, meski ada yang skeptis karena razia sering dilakukan setelah viral. Beberapa komentar meminta razia menyeluruh di seluruh Bekasi, termasuk di area seperti Jembatan Besi atau Tanah Abang. Ada juga tudingan bahwa razia hanya formalitas, karena toko sering mendapat info bocor sebelumnya.
Peredaran obat keras ilegal seperti Tramadol dan Hexymer telah lama menjadi masalah di Bekasi. Toko-toko ini sering berkedok warung kelontong, kosmetik, atau konter HP, dan menargetkan anak muda.
Dampaknya merusak generasi muda, dengan kasus kecanduan dan kekerasan meningkat. Pemkot Bekasi diminta lebih tegas, termasuk oleh Satpol PP yang telah gencar razia sejak tahun lalu. Namun, dugaan keterlibatan oknum membuat penindakan sulit.
