WASHINGTON, AS – Pentagon menghadapi indikasi kuat bahwa konflik militer melawan Iran berpotensi berlangsung jauh lebih lama dari perkiraan awal, setelah dokumen internal Pentagon mengungkap persiapan untuk operasi berkepanjangan hingga September 2026.
Menurut laporan Politico yang mengutip notifikasi internal Departemen Pertahanan AS, US Central Command (CENTCOM) telah meminta pengiriman tambahan perwira intelijen militer ke markas besarnya di Tampa, Florida. Permintaan ini bertujuan mendukung operasi terhadap Iran selama setidaknya 100 hari, bahkan kemungkinan hingga September tahun ini.
Langkah tersebut menandakan alokasi dana tambahan untuk operasi militer jangka panjang, sekaligus mengindikasikan bahwa perhitungan awal Presiden Trump mengenai durasi konflik dinilai kurang akurat oleh para perencana militer.
Sebelumnya, Trump menyatakan keyakinannya bahwa serangan terhadap Iran dapat diselesaikan dalam waktu singkat. Ia menetapkan target 4 hingga 5 minggu untuk mencapai tujuan utama, termasuk menghancurkan kemampuan rudal balistik Iran dan menggulingkan rezim yang berkuasa.
Namun, Menteri Pertahanan Pete Hegseth merevisi estimasi tersebut pada Rabu (4/3/2026). Dalam konferensi pers di Pentagon, Hegseth menyatakan durasi konflik bisa dua kali lipat dari proyeksi semula, yakni mencapai 8 minggu. Ia menegaskan Amerika Serikat memiliki sumber daya dan tekad untuk mengendalikan tempo pertempuran, sambil menekankan bahwa “kami baru saja memulai” upaya membongkar kemampuan militer Iran.
Perubahan sikap ini muncul di tengah eskalasi operasi gabungan Amerika Serikat dan Israel yang dimulai pada akhir Februari 2026. Tujuan operasi disebut mencakup penghancuran infrastruktur rudal, sistem pertahanan udara, dan basis industri militer Iran, tanpa menutup kemungkinan perpanjangan operasi jika diperlukan.
Selain penguatan intelijen, Amerika Serikat juga mempercepat upaya evakuasi warga negaranya dari kawasan Timur Tengah serta mengerahkan lebih banyak agen intelijen. Langkah-langkah ini mencerminkan kesiapan Washington menghadapi kemungkinan konflik berkepanjangan, meski pejabat tinggi Pentagon berulang kali menegaskan operasi ini bukan “perang tanpa akhir” seperti yang pernah terjadi di Irak atau Afghanistan.
Konflik tersebut telah memicu dampak luas, termasuk penutupan sementara beberapa kedutaan besar Amerika Serikat di kawasan, pembatalan ribuan penerbangan komersial, serta gangguan lalu lintas kapal di Selat Hormuz yang memengaruhi harga minyak global.
Hingga kini Pentagon belum merinci target akhir yang pasti atau syarat kemenangan, sementara Iran menyatakan kesiapan menghadapi perang panjang. Situasi ini memunculkan pertanyaan mengenai strategi keluar (exit strategy) Washington di tengah kompleksitas prioritas domestik dan geopolitik.