JAKARTA – Sektor industri manufaktur nasional tengah menghadapi tekanan berat setelah Purchasing Managers Index (PMI) Manufaktur Indonesia turun ke level 46,7 pada April 2025. Angka ini menandakan Indonesia telah memasuki zona kontraksi dan memicu kekhawatiran akan dampak lanjutan pada ekonomi nasional.
Wakil Ketua Komisi VII DPR RI, Dr. Evita Nursanty, MSc, mengingatkan seluruh pemangku kepentingan untuk segera merespons situasi ini secara cepat dan strategis.
“Saya mengajak seluruh pihak, baik pemerintah, dunia usaha, dan pemangku kepentingan lainnya, untuk tidak menunggu krisis lebih dalam. Pelemahan aktivitas manufaktur ini sudah terlalu dalam, mencapai level terendah sejak Covid-19 harus dijadikan peringatan untuk segera bertindak demi menjaga ketahanan industri nasional dan melindungi tenaga kerja Indonesia,” tegas Evita.
Menurut Evita, pelemahan PMI tidak hanya menjadi indikator merosotnya aktivitas industri, tetapi juga berisiko memicu gelombang PHK, meningkatnya pengangguran, serta melemahnya daya beli masyarakat, yang pada akhirnya memperparah angka kemiskinan.
Dampak Domino terhadap Ekonomi dan Investasi
Lebih dari sekadar data statistik, turunnya PMI mencerminkan iklim bisnis yang lesu. Investor menjadi enggan berekspansi, bahkan berpotensi menarik investasinya. Jika tak segera ditangani, situasi ini dapat mengundang sentimen negatif di pasar keuangan dan menghambat pemulihan ekonomi.
“Jika ini terus berlanjut maka akan berdampak pada masalah-masalah sosial. Kita tidak ingin ini terjadi. Karena itu kami di Komisi VII sebagai mitra Kementerian Perindustrian mengawal dan mendukung pemerintah untuk mencari solusi paling baik untuk menyelesaikan persoalan-persoalan ini,” sambung Evita.
Langkah Strategis untuk Pemulihan Industri
Evita menilai, menghadapi tantangan global saat ini diperlukan langkah nyata seperti:
- Perluasan pasar ekspor melalui optimalisasi perjanjian perdagangan internasional.
- Peningkatan daya saing produk lokal agar mampu bersaing di pasar global.
- Penataan iklim investasi agar lebih ramah bagi penanaman modal asing.
- Pemberian stimulus fiskal yang tepat sasaran dalam bentuk insentif pajak, subsidi energi, serta efisiensi logistik.
Selain memperkuat ekspor, Evita juga menekankan pentingnya memperkuat pasar domestik. Konsumsi dalam negeri yang solid dapat menjadi penopang saat pasar ekspor melambat. Ia mendorong substitusi impor dan penyerapan produk lokal oleh pemerintah.
“Tujuannya agar nilai tambah produk manufaktur maksimal dan seluruh rantai pasok aktif di dalam negeri,” ujarnya.
Transformasi Industri dan Perlindungan Tenaga Kerja
Dari sisi industri, Evita mendorong pelaku usaha untuk mendiversifikasi produk dan pasar, terutama ke negara berkembang yang memiliki permintaan tinggi. Ia juga menekankan pentingnya efisiensi produksi, digitalisasi, kolaborasi riset, dan transformasi ke industri bernilai tambah tinggi, seperti manufaktur berbasis teknologi.
Tak kalah penting, perlindungan terhadap pekerja juga harus menjadi prioritas. Ia menilai program reskilling dan upskilling sangat mendesak agar tenaga kerja bisa beradaptasi dengan kebutuhan industri baru, termasuk sektor digital, energi terbarukan, dan logistik.
