Dunia F1 sedang berada di ambang revolusi besar. Perubahan regulasi yang akan berlaku pada tahun 2026 disebut-sebut sebagai salah satu perombakan paling radikal sepanjang sejarah. Namun, mengapa juara dunia seperti Max Verstappen dan Lando Norris justru merasa mobil baru ini kurang “liar”?
Mari kita bedah perbedaan spesifikasi antara jet darat 2025 yang kita kenal sekarang dengan monster hibrida 2026 mendatang.
1. Jantung Pacu: Perang Tenaga Listrik
Perubahan terbesar ada pada unit tenaga (Power Unit). F1 ingin menjadi lebih ramah lingkungan, namun ini mengubah cara mobil berakselerasi.
| Komponen | Mobil 2025 (Regulasi Lama) | Mobil 2026 (Regulasi Baru) |
| Mesin V6 Turbo | Menghasilkan sekitar 550–600 kW | Turun menjadi sekitar 400 kW |
| Tenaga Listrik (ERS) | Terbatas hanya 120 kW | Melonjak drastis ke 350 kW |
| Keseimbangan Daya | Dominan mesin bensin | 50:50 (Bensin & Listrik) |
| Bahan Bakar | Campuran berkelanjutan 10% | 100% Bahan Bakar Sintetis |
Dampaknya: Karena tenaga listrik sangat dominan, pembalap tidak bisa “tancap gas” terus-menerus. Mereka harus menghemat baterai di tengah lintasan agar punya tenaga saat di tikungan atau trek lurus.
2. Aerodinamika: Sayap yang Bisa “Bergerak”
Pernah mendengar DRS? Di tahun 2026, konsep itu dikembangkan lebih jauh menjadi Active Aerodynamics.
-
Tahun 2025: Sayap belakang hanya terbuka (DRS) untuk membantu menyalip di zona tertentu.
-
Tahun 2026: Sayap depan dan belakang bisa berubah posisi secara otomatis. Ada Mode Z (sayap terbuka untuk gaya tekan maksimal di tikungan) dan Mode X (sayap rebah untuk kecepatan maksimal di trek lurus).
3. Dimensi Mobil: Lebih Kecil dan Lebih Ringan
Kritik utama selama bertahun-tahun adalah mobil F1 terlalu besar seperti “kapal tanker”. Tahun 2026, FIA mencoba mengecilkan ukurannya.
-
Bobot: Targetnya turun 30 kg (dari 798 kg menjadi 768 kg).
-
Lebar: Berkurang dari 200 cm menjadi 190 cm.
-
Jarak Roda (Wheelbase): Memendek dari 360 cm menjadi 340 cm.
4. Ban dan Velg
Meskipun velg tetap berukuran 18 inci, lebar ban akan sedikit dikurangi untuk mengurangi hambatan udara (drag), yang berarti daya cengkeram mekanis mungkin sedikit berkurang dibandingkan mobil 2025.
Mengapa Menjadi Kontroversi?
Inilah alasan Max Verstappen menyebutnya “Formula E pakai steroid”:
-
Strategi di Atas Kecepatan: Pembalap harus melakukan lift-and-coast (melepas gas sebelum tikungan) lebih sering untuk mengisi ulang baterai. Bagi pembalap murni, ini terasa seperti balapan manajemen energi, bukan balapan adu cepat.
-
Kehilangan Suara: Dengan pemangkasan tenaga mesin bensin hampir 30%, raungan mesin V6 diprediksi akan semakin halus.
-
Ketergantungan Baterai: Tanpa tenaga listrik yang penuh, mobil 2026 akan terasa sangat lambat di akhir lintasan lurus karena kehabisan “nafas” baterai.
Meskipun lebih ramah lingkungan dan lebih lincah di tikungan sempit karena bodinya yang mengecil, para pembalap masih meragukan apakah “sensasi” mengemudinya akan sebanding dengan era 2025 yang legendaris.