NGAWI – Kisah inspiratif datang dari dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Ngawi, Jawa Timur di mana seorang pekerja kebersihan bernama Agus Yusuf Widodo terus berjuang menjaga harapan hidup keluarganya di tengah keterbatasan.
Setiap pagi, pria berusia 53 tahun itu memulai aktivitasnya dengan membersihkan area dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG)
Khusus secara menyeluruh agar tetap higienis dan siap digunakan untuk kegiatan memasak.
Di balik pekerjaan rutinnya, Agus menjalani kehidupan yang penuh tantangan dengan berbagai sumber penghasilan tambahan demi mencukupi kebutuhan keluarga.
Selain bekerja di dapur MBG, ia juga memelihara delapan ekor kambing serta membuka jasa pijat keliling yang penghasilannya tidak menentu.
“(Penghasilan jadi tukang pijat) tergantung orangnya. Kadang satu orang Rp50 ribu, kadang dua orang Rp100 ribu. Kadang-kadang tidak dapat pelanggan (tidak memijat),” curhatnya, ditulis Minggu (12/4).
Kondisi fisik yang terbatas akibat gangguan pendengaran sejak kecil tidak menjadi penghalang bagi Agus untuk tetap produktif dan mandiri.
Ia mengungkapkan bahwa gangguan tersebut bermula dari penyakit panas yang dideritanya saat masih kecil hingga akhirnya baru lima tahun terakhir menggunakan alat bantu dengar.
“Kalau tidak pakai alat bantu dengar, saya tidak jelas (mendengarnya),” katanya.
Kesempatan bergabung dalam program MBG ia dapatkan dari informasi seorang teman yang kemudian mendorongnya untuk mencoba melamar pekerjaan tersebut.
Kini, setelah lebih dari satu tahun bekerja, Agus merasakan kenyamanan dan penerimaan yang tulus dari lingkungan kerjanya.
“Lumayan bagus dan lancar, alhamdulillah. Saya semangat dan senang bekerja (di dapur MBG). Teman-teman juga menerima kondisi saya,” ucapnya.
Penghasilan yang diterima dari pekerjaannya sebagai petugas kebersihan menjadi tulang punggung utama dalam memenuhi kebutuhan rumah tangga.
Ia mengatur keuangan dengan disiplin, di mana gaji yang cair setiap dua minggu digunakan secara bergantian untuk membayar cicilan utang dan kebutuhan sehari-hari.
“Hasilnya (gaji) cair dua minggu sekali. Ini untuk bayar utang bank. Dua minggu berikutnya untuk kebutuhan,” katanya.
Utang yang dimilikinya merupakan bagian dari perjuangan untuk memastikan anaknya tetap mendapatkan pendidikan yang layak.
“Saya mencicil di bank untuk biaya sekolah anak saya,” imbuhnya.
Program MBG pun menjadi titik balik penting dalam kehidupan Agus karena memberinya peluang untuk memperbaiki kondisi ekonomi secara perlahan.
Dengan pekerjaan sederhana namun penuh makna, ia kini mampu menata kembali masa depan keluarganya dengan lebih optimistis.
Jika suatu saat diberi kesempatan bertemu Presiden Prabowo Subianto, Agus hanya ingin menyampaikan rasa terima kasih atas peluang yang telah mengubah hidupnya.
“Terima kasih, Pak Prabowo. Saya bisa bekerja di MBG untuk mencicil utang dan memenuhi kebutuhan lainnya,” tuturnya.***