JAKARTA — Muhammad Qodari lahir di Palembang, Sumatera Selatan, pada 15 Oktober 1973. Ia dikenal luas sebagai pengamat politik sekaligus peneliti. Perjalanan akademiknya dimulai di Fakultas Psikologi Universitas Indonesia dengan konsentrasi psikologi sosial, dan ia menyelesaikan jenjang sarjana pada 1997.
Qodari melanjutkan studi pascasarjana di University of Essex, Inggris, dengan fokus perilaku politik, lulus pada 2002. Gelar doktor ilmu politik ia raih dari Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, pada 2016, melalui disertasi bertajuk “Split-Ticket Voting dan Faktor-Faktor yang Menjelaskannya pada Pemilu Legislatif dan Pemilu Presiden Indonesia Tahun 2014”. Ia menyelesaikan studi doktoralnya dengan predikat sangat memuaskan.
Karier di Dunia Riset dan Jurnalisme
Di bidang profesional, Qodari memulai kariernya sebagai peneliti di Institut Studi Arus Informasi (ISAI) pada 1999 hingga 2001. Ia kemudian bergabung dengan Center for Strategic and International Studies (CSIS) hingga 2003.
Pada periode 2003–2004, ia dipercaya memimpin redaksi Majalah Kandidat sekaligus Campaign and Election Magazine. Selanjutnya, ia menjabat Direktur Riset Lembaga Survei Indonesia (LSI) pada 2003–2005, sebelum naik posisi menjadi Wakil Direktur Eksekutif LSI hingga 2006.
Pada November 2006, Qodari mendirikan Indo Barometer dan hingga kini menjabat sebagai direktur eksekutif lembaga survei tersebut. Namanya semakin dikenal publik seiring kiprahnya sebagai pengamat dan komentator isu-isu politik nasional.
Keterlibatan dalam Dunia Politik
Qodari dikenal pula atas keterlibatannya di panggung politik praktis. Ia pernah menjadi relawan pendukung Joko Widodo (Jokowi) sekaligus Prabowo Subianto, serta dikenal sebagai pendukung pemerintahan Presiden Jokowi. Dalam perjalanannya, ia sempat melontarkan gagasan mengenai perpanjangan masa jabatan presiden, yang memantik perdebatan di tengah masyarakat.
Setelah Prabowo Subianto dilantik sebagai Presiden, Qodari ditunjuk sebagai Kepala Kantor Staf Kepresidenan, menggantikan AM Putranto. Ia kemudian resmi dipercaya memimpin lembaga tersebut.
Hingga kini, Muhammad Qodari diprediksi akan menduduki kursi Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) Republik Indonesia, menggantikan Angga Raka melalui reshuffle kabinet. (ACH)