JAKARTA — Dorongan Kementerian Agama (Kemenag) dalam mengarusutamakan ekoteologi dinilai DPR RI sebagai langkah strategis untuk menjawab krisis lingkungan yang semakin nyata dan berdampak luas pada kehidupan sosial serta spiritual masyarakat.
Anggota Komisi VIII DPR RI, Sigit Purnomo atau Pasha ‘Ungu’, menyampaikan apresiasi atas konsistensi Kemenag yang mengaitkan nilai-nilai keagamaan dengan tanggung jawab menjaga kelestarian alam sebagai isu global yang mendesak.
Menurut Pasha, ekoteologi menjadi jembatan penting antara ajaran iman dan praktik nyata perlindungan lingkungan yang relevan bagi semua pemeluk agama di Indonesia.
“Ekoteologi penting tentang bagaimana kita bersama-sama mampu menjaga alam dari perspektif spiritual.”
“Saya yakin semua agama mengajarkan tentang bagaimana kita bisa hidup berdampingan dengan alam,” ungkapnya saat menghadiri Talkshow Ekoteologi Pemuda Lintas Iman bertajuk “Bumi, Iman, dan Kita” yang digelar Balai Litbang Agama (BLA) Jakarta, Senin (12/1/2026).
Pasha menilai penguatan ekoteologi yang dijalankan Kemenag melalui BLA Jakarta sebagai Unit Pelaksana Teknis BMBPSDM memberikan manfaat konkret karena menyentuh kesadaran publik lintas generasi dan komunitas.
Ia menekankan pentingnya pengawalan berkelanjutan agar program-program ekoteologi Kemenag tidak berhenti pada wacana, tetapi menghasilkan dampak langsung bagi masyarakat dan lingkungan.
Selain itu, Pasha mendorong kolaborasi lintas lembaga dan elemen bangsa untuk memperluas jangkauan gerakan peduli lingkungan berbasis nilai keagamaan.
“Pemerintah melalui kementerian dan lembaga harus membangun kesadaran peduli terhadap lingkungan. Kita harus kawal sehingga kehidupan berbangsa dan bernegara, dalam konteks empat pilar, betul-betul bisa kita raih bersama,” jelasnya.
Sementara itu, Kepala Balai Litbang Agama Jakarta, Irhason, menegaskan bahwa ekoteologi merupakan bagian integral dari implementasi Moderasi Beragama yang menempatkan kepedulian terhadap bumi sebagai fondasi moral bersama.
Ia menyampaikan bahwa sinergi berbagai pihak menjadi kunci untuk memaksimalkan kampanye moderasi beragama yang berpadu dengan kesadaran ekologis dalam seluruh program Kemenag.
“Penguatan ekoteologi merupakan bagian tak terpisahkan dari pembangunan insan moderat. Moderasi Beragama memiliki banyak aspek dan dimensi, salah satunya adalah kepedulian terhadap bumi dan lingkungannya,” ungkapnya.
Talkshow Ekoteologi tersebut melibatkan komunitas lintas iman, majelis taklim, mahasiswa, hingga masyarakat umum yang mendiskusikan peran agama dalam pelestarian alam dan pemanfaatan limbah daur ulang secara berkelanjutan.***