LAMPUNG TENGAH – Menteri Pertahanan Republik Indonesia, Sjafrie Sjamsoeddin, meninjau langsung kesiapsiagaan prajurit Batalyon Infanteri Teritorial Pembangunan 848/Satya Pandya Cakti di Anak Tuha, Lampung Tengah, Kamis (26/2/2026). Kunjungan ini menegaskan komitmen pemerintah untuk memastikan TNI tidak hanya kuat secara militer, tetapi juga hadir sebagai pelindung serta penggerak pembangunan masyarakat.
Yonif TP 848/SPC yang berada di bawah Brigif TP 88/KBK Kodam II/Sriwijaya mendapat perhatian khusus karena memiliki peran ganda, yakni sebagai satuan siap tempur sekaligus motor penguatan ketahanan wilayah. Peninjauan ini menjadi momentum untuk memastikan kesiapan operasional prajurit tetap optimal dalam menghadapi dinamika ancaman modern, sekaligus mempererat kedekatan dengan masyarakat sekitar.
Demonstrasi Kemampuan Fisik dan Bela Diri
Dalam kunjungan tersebut, Menhan menyaksikan demonstrasi kemampuan prajurit di bawah terik matahari Lampung. Kegiatan diawali dengan latihan calisthenics, kemudian dilanjutkan dengan pertunjukan bela diri militer tingkat lanjut seperti karate, taekwondo, muay thai, pencak silat militer, dan tinju.
Gerakan yang presisi, kekompakan tim, serta daya tahan fisik prajurit mencerminkan disiplin dan profesionalisme yang tinggi. Demonstrasi ini bukan sekadar pertunjukan, melainkan gambaran nyata kesiapan prajurit dalam menghadapi berbagai spektrum ancaman, baik konvensional maupun nonmiliter.
Motor Ketahanan Pangan dan Ekonomi Lokal
Selain kemampuan tempur, Komandan Yonif TP 848 juga memaparkan berbagai program produktif yang dijalankan satuan. Prajurit aktif mengelola lahan pertanian jagung dan tebu, peternakan kambing untuk kebutuhan sosial dan keagamaan, serta budidaya ayam petelur sebagai sumber protein berkelanjutan.
Program-program tersebut tidak hanya mendukung ketahanan pangan nasional, tetapi juga membuka lapangan kerja, meningkatkan perekonomian desa, serta memperkuat kemanunggalan TNI dengan rakyat.
TNI sebagai Pilar Sishankamrata
Dalam arahannya, Menhan menekankan pentingnya kehadiran TNI sebagai pelindung nyata masyarakat. Ia mendorong pelaksanaan patroli bermotor bersenjata dengan sistem berpasangan atau buddy system sebagai langkah preventif untuk mengantisipasi gangguan keamanan dan ketertiban masyarakat.
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa Yonif TP harus membangun kepercayaan publik sebagai bagian dari Sistem Pertahanan dan Keamanan Rakyat Semesta (Sishankamrata).
“Kehadiran satuan harus dirasakan rakyat sebagai pelindung dan pengayom. Dengan demikian, tumbuh rasa memiliki dari masyarakat terhadap TNI,” tegasnya.
Dalam pembinaan satuan, ia juga menyoroti pentingnya pengembangan pola pembinaan satuan tempur berbasis tipologi wilayah dan kesanggupan prajurit untuk mengabdi.
“Prajurit harus memiliki kemampuan, tetapi lebih dari itu harus memiliki kesanggupan untuk hadir dan mengabdi kepada rakyat,” tambahnya.
Kunjungan ini menjadi pengingat bahwa di era modern, TNI bukan hanya kekuatan pertahanan negara, tetapi juga kekuatan teritorial yang membangun kepercayaan, ketahanan, dan harapan bersama masyarakat. Yonif TP 848/SPC di Lampung Tengah menjadi contoh nyata bagaimana prajurit TNI hadir bukan hanya saat ada ancaman, tetapi juga setiap hari sebagai pelindung, tetangga, dan penggerak pembangunan.