NEW YORK, AS – Perdana Menteri Jepang Shigeru Ishiba mengangkat kembali semangat Konferensi Asia-Afrika (KAA) Bandung 1955 dalam pidatonya di Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York, Amerika Serikat.
Penyebutan ini bukan sekadar nostalgia, melainkan panggilan untuk memperkuat kerja sama internasional di tengah konflik global yang kian rumit, seperti perang di Gaza dan ketegangan nuklir.
Ishiba menekankan peran krusial PBB dalam menjaga stabilitas dunia, sebagaimana diamanatkan Piagam PBB. Ia mengkritik kinerja Dewan Keamanan PBB yang sering terhambat oleh dinamika lima anggota tetapnya, sehingga sulit menangani isu-isu mendesak.
“Tujuan utama Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), sebagaimana diatur dalam Piagam PBB, adalah untuk memelihara perdamaian dan keamanan internasional,” ujar Ishiba, menandai fondasi pidatonya yang berfokus pada reformasi multilateral.
Puncak pidato Ishiba tertuju pada KAA Bandung, yang berulang tahun ke-70 tahun ini. Ia mengenang konferensi itu sebagai momen bersejarah bagi Jepang pasca-Perang Dunia II.
“Tujuh puluh tahun telah berlalu sejak Konferensi Bandung, yang mempertemukan negara-negara Asia dan Afrika untuk pertama kalinya guna memperjuangkan perdamaian dan kerja sama dunia,” katanya.
Ishiba menyoroti bagaimana negara-negara Asia menunjukkan sikap inklusif terhadap Jepang yang baru bangkit dari kehancuran perang. “Mereka pasti mengalami pergulatan batin yang tak terkira,” tambahnya, mengakui luka mendalam yang dialami korban perang.
Lebih lanjut, Ishiba berjanji komitmen Jepang untuk tidak mengulangi kesalahan masa lalu. “Namun, didukung oleh semangat toleransi ini dan dengan janji untuk tidak pernah berperang lagi, Jepang terus berjuang mewujudkan perdamaian dunia yang abadi,” tegasnya.
Pernyataan ini sejalan dengan upaya Tokyo untuk memperdalam dialog dengan negara tetangga dan pemimpin Asia Tenggara, guna membangun hubungan masa depan yang berkelanjutan.
KAA Bandung, Respons terhadap Perang Dingin & Kolonialisme
KAA Bandung 1955 lahir dari kekhawatiran global akan Perang Dingin antara Blok Barat di bawah Amerika Serikat dan Blok Timur yang dipimpin Uni Soviet.
Saat itu, kolonialisme masih merajalela di banyak wilayah, disertai perang saudara dan konflik antarnegara yang memicu instabilitas.
Konferensi yang digagas oleh Indonesia ini menjadi platform bagi 29 negara Asia-Afrika untuk menyuarakan solidaritas, anti-kolonialisme, dan perdamaian, yang kini menjadi fondasi Gerakan Non-Blok.
Penyebutan Ishiba ini relevan di tengah agenda Sidang Umum PBB 2025 yang membahas reformasi kelembagaan global. Sebagai negara G7, Jepang semakin vokal mendorong inklusivitas, terutama setelah transisi kepemimpinan dari Fumio Kishida ke Ishiba pada Oktober 2024.
Pidato ini juga menambah momentum peringatan KAA, yang diharapkan memperkuat posisi Indonesia sebagai jembatan diplomasi Asia-Afrika.
Dengan sorotan pada warisan Bandung, Ishiba tak hanya menghormati sejarah, tapi juga mengajak dunia untuk menerapkan semangat toleransi dalam menghadapi tantangan kontemporer.
Pidato lengkapnya dapat diakses melalui arsip resmi PBB, sementara Indonesia bersiap menyambut delegasi internasional untuk acara peringatan KAA mendatang.